ETIKA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA YANG MENGARAH PADA PERLINDUNGAN KONSUMEN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Etika merupakan cabang falsafah dan sekaligus merupakan suatu cabang dari ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Sebagai cabang falsafah yang membahas sistem-sistem pemikiran yang mendasar tentang ajaran dan pandangan moral. Sebagai cabang ilmu ia membahas bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu. Etika sebagai ilmu dibagi dua, yaitu etika umum dan etika khusus.

Etika umum membahas prinsip-prinsip umum yang berlaku bagi setiap tindakan manusia. Dalam falsafah Barat dan Timur, seperti di Cina dan seperti dalam Islam, aliran-aliran pemikiran etika beranekaragam. Tetapi pada prinsipnya membicarakan asas-asas dari tindakan dan perbuatan manusia, serta system nilai apa yang terkandung di dalamnya. Etika sebagai cabang ilmu membahas bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu. Etikasosial meliputi cabang etika yang lebih khusus seperti etika keluarga, etika profesi, etika bisnis, etika lingkungan, etika pendidikan, etika kedokteran, etika jurnalistik, etika seksual dan etika politik. Pancasila merupakan nilai dasar yang menjadi rambu-rambu bagi politik hokum nasional. Nilai-nilai dasar itu kemudian melahirkan empat kaidah penuntun hokum yang harus dijadikan pedoman dalam pembangunan hukum. Empat kaidah itu meliputi, pertama hukum Indonesia harus bertujuan dan menjamin integrasi bangsa, baik secara teritorial maupun ideologis. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sebagaimana dikemukakan oleh HansKelsen merupakan Grundnorm ataupun menurut Teori Hans Nawiasky disebut sebagai Staatsfundamentalnorm .Dalam hal ini menurut A. Hamid S. Attamimi secara eksplisit bahwa Pancasila adalah norma fundamental Negara (Staatsfundamentalnorm) Republik Indonesia. Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Di setiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika di setiap tingkah laku kita.

 

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana  etika dalam perspektif pancasila yang mengarah pada perlindungan konsumen ?

 

TUJUAN DAN MANFAAT

Menjelaskan etika dalam perspektif pancasila yang mengarah pada perlindungan konsumen

Di samping itu penulisan ini diharapkan memberikan manfaat , baik dari segi teoreis maupun praktis, yakni :

Manfaat Teoretis :  penulisan ini diharapkan mampu merekontruksi pemikiran tentang

                              etika dalam perspektif pancasila yang mengarah pada perlindungan konsumen.

 

Manfaat Praktis :  penulisan ini diharapkan dapat menjelaskan  mengenai etika dalam perapektif pancasila

                                yang mengarah pada perlindungan konsumen.

1. Pengertian etika

     Etika dalah suatu ilmu yang menggunakan tingkah laku manusia sebagai objeknya dan memiliki cara pandang yang normatif karena dapat dilihat sisi positif dan negatif dari tingkah laku manusia tersebut.

Sebagai suatu usaha ilmiah, filsafat dibagi, menjadi beberapa cabang menurut lingkungan masing-masing. Cabang-cabang itu dibagi menjadi dua kelompok bahasan pokok yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat pertamaberisi tentang segala sesuatu yang ada sedangkan kelompok kedua membahasbagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut. Misalnya hakikat manusia, alam, hakikat realitassebagai suatu keseluruhan, tentang pengetahuan,tentang apa yang kita ketahui dan tentang yang transenden.Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaituetika umum dan etika khusus.

 

      2. Nilai-nilai yang Terkandung pada Ideologi Pancasila

Dalam pandangan filsafat, nilai (value) sering dihubungkna dengan masalah kebaikan. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai, apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik (nilai moral), religius (nilai religi), dan sebagainya. Nilai itu ideal, bersifat ide. Karena itu, nilai adalah sesuatu yang abstyrak dan tidak dapat disentuh dengan panca indera. Yang dapat ditangkap adalah barang atau laku perbuatan yang mengandung nilai itu.

Secara umum pengertian nilai adalah kualitas ketentuan yang bermakna bagi kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa, dan Negara. Kehadiran nilai dalam kehidupan manusia dapat menimbulkan aksi dan reaksi, sehingga manusia akan menerima atau menolak kehadirannya. Konsekuensinya, niali akan menjadi tujuan hidup yang ingin diwujudkan dalam kenyataan. Sehubungan dengan nilai-nilai pancasila yang berkembang di dalam masyarakat Indonesia, nlai-nilai seperti nilai keadilan dan keujuran merupakan nilai-niali yang sellau menjadi kepedulian manusia untuk dapat diwujudkan dalam kenyataan. Sebaliknya, kezaliman dan kebohongan merupakan nilai yang sellau ditokak.

Implementasi Ideologi pancasila bersifat fleksibel dan interaktif (bukan doktriner). Hal ini karena ditunjang oleh eksistensi ideology pancasila yang memang sejak digulirkan oleh para founding (fathers (pendiri Negara) telah melalui pemikrian-pemikiran yagn mendalams sebagai kristalisasi yang digali dari nilai-nilai social-budaya bangsa Indonesia sendiri. Ideology pancasila bersifat fleksibel karena mengandung nilai-nilai sebagai berikut:

      1.      Nilai Dasar

Merupakan nilai-nilai dasar yang relative tetap (tidak berubah) yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945. nilai-nilai dasar pancasila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan social) akan dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai instrumental dan nilaip raksis yang lebih bersifat fleksibel, dalam bentuk norma-norma yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarkat, berbangsa, dan bernegara.

      2.      Nilai Instrumental

Merupakan nilai-nilai lebih lanjut dari nilai-nilai dasar yang dijabarkan secara lebih kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD 1945, TAP MPR, dan peraturan perundang-undangan lainnya.

      3.      Nilai Praksis

Merupakan nilai-nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Nilai praksis yang abstrak (misalnya menghormati kerja sama, kerukunan, dan sebagainya) diwujudkan dalam bentuk sikap, perbuatan, dan tingkah laku sehari-hari. Dengan demkian, nilai-nilai tersebut tampak nyata dan dapat kita rasakan bersamaan.

Pancasila sebagai sumber nilai umum dapat dilihat dalam penjelasan berikut :

Sil1. Sila ketuhanan yang maha esa:

  •  Merupakan bentuk keyakinan yang berpangkal dari kesadaran manusia  sebagaimakhluk Tuhan.
  •  Negara menjamin bagi setiap penduduk untuk beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
  •  Tidak boleh melakukan perbuatan yagn anti ketuhanan dan anti kehidupan beragama.
  •  Mengembangkan kehidupan toleransi baik antar, inter, maupun antara umatberagama.
  •  Mengatur hubungan Negara dan agama, manusia dengan tuhan dan yangmenyangkut hak asasi yang paling asasi.

2.      Sila kemanusiaan yang adil dan beradab

  •   Merupakan bentuk kesadaran manusia terdapat potensi budi nurani dalam hubungandengna norma-norma kebudayaan pada umumnya.
  • Adanya konsep nilai kemanusiaan yang lengkap, adil, dan bermutu tinggi karenakemampuan berbudaya.
  • Manusia Indonesia adalah bagian dari warga dunia, menyakini adanya prinsip,persamaan harkat dan martabat sebagai hamba tuhan.
  •  Mengandung nilai cinta kasih dan nilai etis yang menghargai keberanian untuk,membela kebenaran, santun dan menghormati harkat manusia.

3.      Sila persatuan Indonesia:

  • Persatuan dan kesatuan dalam arti ideologis, ekonomi, politik, sosial budaya dan keamanan.
  • Manifestasi faham kebangsaan yang memberi tempat bagi keragaman budaya atau etnis.
  • Menghargai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan masyarakat.
  • Menjunjung tinggi tradisi kejuangan dan kerelaan untuk berkorban dan membela kehormatan bangsa dan negara.
  • Adanya nilai patriotik serta penghargaan rasa kebangsaan sebagai realitas yang dinamis.

4.Sila kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalma permusyawaratan/ perwakilan.

  • Paham kedaulatan rakyat yang bersumber kepada nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotong royongan.
  • Musyawarah merupakan cermin sikap dan pandangan hidup bahwa kemauan rakyat adalah kebenaran dan keabsahan yang tinggi.
  • Mandahulukan kepentingan negara dan masyarakat.
  • Menghargai kesukarelaan dan kesadaran dari pada memaksakan sesuatu kepada orang lain.

5.      Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

  • Setiap rakyat Indonesia diperlakukan dengan adil dalam bidang hokum, ekonomi, kebudayaan, dan social.
  • Tidak adanya golongan tirani minoritas dan mayoritas.
  • Adanya keselarasan, keseimbangan, dan keserasian hak dan kewajiban rakyat Indonesia.
  • Kedermawanan terhadap sesama, sikap hidup hemat, sederhana, dan kerja keras.
  • Menghargai hasil karya orang lian.
  • Menolak adanya kesewenang-wenangan serta pemerasaan kepada sesama.
  • Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia

 

Mengenai perlindungan konsumen (consumer protection), berarti berbicara tentang salah satu sisi dari korelasi antara lapangan perekonomian dengan lapangan etika. Dalam kegiatan bisnis terdapat hubungan yang saling membutuhkan antara pelaku usaha dan konsumen. Kepentingan pelaku usaha adalah memperoleh laba (profit) dari transaksi dengan konsumen, sedangkan kepentingan konsumen adalah memperoleh kepuasan melalui pemenuhan kebutuhannya terhadap produk tertentu. Dalam hubungan yang demikian seringkali terdapat ketidaksetaraan antara keduanya. Konsumen biasanya berada dalam posisi yang lemah dan karenanya dapat menjadi sasaran eksploitasi dari pelaku usaha yang secara sosial dan ekonomi mempunyai posisi yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan seperangkat aturan hukum yang dapat melindungi atau memberdayakan konsumen. Perlindungan konsumen merupakan hak warga negara yang pada sisi lain merupakan kewajiban negara untuk melindungi warga negaranya, khusunya atas produk yang halal dan baik. Sehingga dalam menentukan aturan hukum tersebut diperlukan adanya campur tangan negara melalui penetapan sistem perlindungan hukum terhadap konsumen. Berkaitan dengan hal tersebut telah disahkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

 

1.  PENGERTIAN

       Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk diperdagangkan. Sedangkan perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Dalam bukunya, Pengantar Hukum Bisnis, Munir Fuady mengemukakan bahwa konsumen adalah pengguna akhir (end user) dari suatu produk, yaitu setiap pemakai barang dan/atau jasa yang terrsedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk diperdagangkan.

Menurut Mochtar Kusumaatmaja hukum perlindungan konsumen adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan melindungi konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan/atau jasa konsumen. Sedangkan menurut UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dimaksud dengan perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Dan yang dimaksud dengan konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain, dan tidak untuk diperdagangkan.

2.  DASAR HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

Di Indonesia dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah:

a.       UUD 1945 pasal 5 ayat (1), pasal 21 ayat (1), pasal 27, dan pasal 33.

b.      UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara RI Tahun 1999 No. 42 Tambahan

Lembaran Negara RI No. 3821).

c.       UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

d.      UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

e.       PP No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.

f.       Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 tentang Penanganan Pengaduan

Konsumen yang ditujukan kepada seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota.

g.      Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No.  795/DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman

Pelayanan Pengaduan Konsumen.

 

3.  JENIS-JENIS KONSUMEN

Konsumen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Konsumen yang menggunakan barang/jasa untuk keperluan komersial (intermediate consumer, intermediate buyer,

    derived buyer, consumer of industrial market).

2. Konsumen yang menggunakan barang/jasa untuk keperluan diri sendiri/keluarga/non komersial (Ultimate consumer,

     Ultimate buyer, end user, final consumer, consumer of the consumer market).

  

4.  ASAS DAN TUJUAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.

1. Asas Manfaat. Dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam menyelenggarakan perlindungan

konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara

keseluruhan.

2.  Asas Keadilan. Dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat bisa diwujudkan secara maksimal dan memberikan

kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memberikan haknya dan melaksanakan kewajibannya secara

adil.

3.  Asas Keseimbangan. Dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha,

dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual.

4.  Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen. Dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan

keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang atau jasa yang dikonsumsi

atau digunakan.

5.  Asas Kepastian Hukum. Dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh

keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.

 

Sedangkan tujuan dari perlindungan konsumen adalah sebagai berikut:

a.  Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

b.  Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang

dan/atau jasa.

c.   Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.

d.   Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi

serta akses untuk mendapatkan informasi.

e.  Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang

jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.

f.  Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa,

kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan konsumen.

 

5.  HAK  DAN  KEWAJIBAN  KONSUMEN

Hukum, khususnya hukum ekonomi mempunyai tugas untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pengusaha, masyarakat, dan pemerintah. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) secara tegas menyebutkan bahwa pembangunan ekonomi nasional pada era globalisasi harus mampu menghasilkan aneka barang dan jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat menjadi sarana penting kesejahteraan rakyat, dan sekaligus mendapatkan kepastian atas barang dan jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian konsumen. Selanjutnya, upaya menjaga harkat dan martabat konsumen perlu didukung peningkatan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab.

Dalam Pasal 4 UUPK mengatur hak-hak dari konsumen. Hak-hak konsumen tersebut adalah:

a.  Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

b.  Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar

dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.

c.   Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

d.   Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.

e.    Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara

patut.

f.    Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.

g.   Hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

h.    Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima

tidak sesuai dengan perjanjian dan tidak sebagaimana mestinya

i.      Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lain.

 

Selanjutnya pasal 5 UUPK mengatur kewajiban konsumen, yaitu:

a.  Membaca  atau  mengikuti  petunjuk  informasi  dan  prosedur  pemakaian  atau pemanfaatan barang dan/atau jasa,

demi keamanan dan keselamatan.

b.   Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.

c.    Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.

d.   Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

 

 

6.        HUKUM TERTULIS YANG  BERKAITAN  DENGAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

Sejak zaman penjajahan Hindia Belanda sudah ada beberapa peraturan yang berkaitan dengan perlindungan konsumen, misalnya sebagai berikut:

a.    Vuurwerk Ordonnantie (Ordonasi Petasan), S. 1932-143.

b.   Sterkwerkannde Geneesmiddelen Orgonnantie (Ordonasi Obat Keras), S. 1937-  641.

c.    Gevaarlijke Stoffen Ordonnantie (Ordonasi Bahan-Bahan Berbahaya), S. 1949- 377.

d.   Tin Ordonnantie (Ordonasi Timah Putih), S. 1931-509.

e.    Verpakkings Ordonnantie (Ordonasi Kemasan), S. 1935 No. 161.

 

Setelah kemerdekaan, walaupun Undang-Undang yang membahas secara khusus tentang perlindungan konsumen belum ada, tetapi dalam peraturan perundang-undangan telah dijelaskan secara parsial yang berhubungan dengannya, misalnya:

a.    Undang-Undang Pokok Kesehatan, UU No. 9 Tahun 1960.

b.   Undang-Undang Barang, UU No. 10 Tahun 1961.

c.    Undang-Undang Narkotika, UU No. 9 Tahun 1976.

d.   Undang-Undang Lingkungan Hidup, UU No. 4 Tahun 1982.

e.    Undang-Undang Wajib Daftar Perusahaan, UU No. 3 Tahun 1982.

Selain itu juga disebutkan mengenai perlindungan konsumen dalam peraturan perundang-undangan terutama dalam UUD 1945 pasal 33 dan 27, serta dalam Pancasila sila 2 dan sila 5.

 

7.  POSISI     HUKUM     PERLINDUNGAN     KONSUMEN     DALAM

     PERDAGANGAN BEBAS

 

Situasi akhir-akhir ini yang mendesak pemerintah dan pelaku usaha untuk segera memulihkan kegiatan bisnis dan perekonomian sering kali dihadapkan pada persoalan perlindungan konsumen. Pasokan barang dan jasa melalui kegiatan promosi yang gencar tidak selamanya dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat, dan bahkan seringkali mengakibatkan masyarakat menjadi korban. Sifat berfikir objektif sering dikalahkan oleh kegiatan promosi yang dikemas sedemikian rupa sehingga mengubur sikap rasional konsumen. Situasi dan kodisi yang mengharuskan Indonesia terlibat secara aktif dalam pasar bebas dan globalisasi semakin membuat masalah yang dihadapi konsumen semakin kompleks. Melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1994, Negara kita telah meratifikasi Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

Dalam aturan-aturan yang ditetapkan WTO, sebenarnya perlindungan konsumen lebih mendapat perhatian dan perlindungan hukum, misalnya perlindungan hak kekayaan intelektual, standar-standart barang dan jasa yang diperdagangkan, serta sanksi bagi negara-negara yang memproduksi barang dan jasa yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum. Dalam TRIPs (Trade Related Intelectual Properties) antara lain disebutkan bahwa negara anggota wajib melaksanakan ketentuan tentang penggunaan merek sebagai upaya untuk melindungi konsumen sebagai korban peniruan merek. Selain itu, pada peraturan yang tercantum dalam GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) mengisyaratkan pencantuman indikator atas asal barang impor sebagai upaya untuk melindungi konsumen.

8.   LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN

8.1        Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

Di Indonesia gema dari perlindungan konsumen baru mulai didengungkan pada tahun 1970-an, terutama setelah berdirinya Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) bulan Mei 1973. Organisasi ini bertindak atas dasar pengabdian kepada kehidupan manusiawi, dengan Nyonya Lasmidjah Hardi sebagai pimpinannya. Historis dari lahirnya YLK ditandai oleh rasa mawas diri terhadap gemuruhnya kancah promosi, yakni promosi untuk memperlancar perdagangan barang-barang dalam negeri.

Nyonya Lasmidjah Hardi sebelumnya adalah ketua ‘Pekan Swa Karya’, yaitu suatu kegiatan berupa aksi promosi terhadap berbagai barang dalam negeri. Kegiatan dari ‘Pekan Swa Karya’ ini menimbulkan munculnya ssuara-suara dari masyarakat, terutama dari pihak pers untuk mengimbangi usaha-usaha promosi tersebut dengan  langkah-langkah pengawasan agar kualitasnya tetap terjamin dan masyarakat konsumen tidak dirugikan.

Dengan adanya tanggapan dari pihak pers dan masyarakat tersebut, maka kegiatan ‘Pekan Swa Karya’ mulai memikirkan usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk melindungi konsumen. Sejumlah tokoh-tokoh masyarakat kemudian mulai bergerak untuk merealisasikan dan mencari bentuk terhadap masalah perlindungan konsumen. Tokoh-tokoh tersebut mengadakan temu bicara dengan beberapa kedutaan asing, dengan Departemen Perindustrian, dengan DPR, dan beberapa tokoh masyarakt lainnya. Hasil dari kegiatan tersebut akhirnya melahirkan suatu perkumpulan konsumen di Indonesia yang diberi nama ‘Yayasan Lembaga Konsumen’. Landasan dan arah Perjuangan YLK sendiri pada dasarnya adalah melindungi konsumen, menjaga martabat produsen, dan membantu pemerintah.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia disingkat YLKI adalah organisasi non-pemerintah dan nirlaba yang didirikan di Jakarta pada tanggal 11 Mei 1973. Tujuan berdirinya YLKI adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya..

Pada awalnya, YLKI berdiri karena keprihatinan sekelompok ibu-ibu akan kegemaran konsumen Indonesia pada waktu itu dalam mengkonsumsi produk luar negeri. Terdorong oleh keinginan agar produk dalam negeri mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia maka para pendiri YLKI tersebut menyelenggarakan aksi promosi berbagai jenis hasil industri dalam negeri.

 

8.2        Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM)

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat yang selanjutnya disebut LPKSM adalah Lembaga Non Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen. Tugas LPKSM meliputi kegiatan.

a.      Menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban serta kehati-hatian

konsumen, dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

b.      Memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukan.

c.       Melakukan kerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen.

d.       Membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen.

e.        Melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen.

 

9.  SENGKETA DAN PERANAN PENGADILAN

Perbedaan kepentingan antara konsumen dan pelaku usaha mengakibatkan kemungkinan terjadinya sengketa konsumen cukup besar. Jika ada keluhan terhadap produknya, pelaku usaha akan mengupayakan penyelesaian tertutup, sedangkan konsumen berkepentingan agar penyelesaian dilakukan lewat saluran umum supaya tuntas. Cara penyelesaian sengketa konsumen secara khusus sesuai UUPK memberikan berbagai manfaat bagi konsumen maupun juga bagi pelaku usaha, bahkan juga pemerintah, yaitu:

a.    Mendapat ganti rugi atas kerugian yang diderita.

b.   Melindungi konsumen lain agar tidak mengalami kerugian yang sama, karena dengan satu orang mengadu sesuai

prosedur, sejumlah orang lainnya akan dapat tertolong.

c.   Menunjukkan sikap kepada masyarakat pelaku usaha supaya lebih memperhatikan kepentingan konsumen.

d.  Pengaduan dapat dijadikan tolok ukur dan titik tolak untuk perbaikan mutu produk dan memperbaiki kekurangan lain

yang ada

e.   Dapat dijadikan informasi dari adanya kemungkinan produk tiruan.

Berdasarkan pasal 46 ayat (1) UUPK dinyatakan bahwa setiap gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh:

a.    Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan.

b.   Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama.

c.    Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat.

d.   Pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan

mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korbanyang tidak sedikit.

Jika pelaku usaha pabrikan dan/atau pelaku usaha distributor menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen, maka diberikan hak untuk menggugat pelaku usaha dan menyelesaikan perselisihan yang timbul melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) atau dengan cara mengajukan gugatan kepada badan peradilan di tempat kedudukan konsumen. Oleh karena itu jelaskalah bahwa untuk menyelesaikan sengketa dapat dilakukan melalui badan di luar sistem peradilan yang disebut BPSK atau melalui pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan konsumen.

 

 

9.1        Penyelesaian Sengketa melalui BPSK

a.          Tugas dan Wewenang BPSK

Berdasarkan UUPK Pasal 52 menyebutkan bahwa tugas dan wewenang BPSK  meliputi:

1.     Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau

konsiliasi.

2.      Memberikan konsultasi perlindungan konsumen.

3.      Melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku.

4.      Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam undang-undang ini.

5.      Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap

perlindungan konsumen.

6.      Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen.

7.      Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen.

8.      Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran

terhadap undang-undang ini.

9.      Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana

dimaksud pada angka (7)  dan (8), yang tidak bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa

konsumen.

10.  Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan/atau

         pemeriksaan.

11.  Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen.

12.  Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen.

13.  Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.

 

b.  Prosedur Penyelesaian Sengketa melalui BPSK

      Untuk menyelesaikan sengketa konsumen, BPSK membentuk majelis dengan jumlah anggota berjumlah ganjil yang terdiri dari sedikitnya tiga orang yang mewakili semua unsur, dan dibantu seorang panitera. Dalam hal ini BPSK diwajibkan untuk menyelesaikan sengketa konsumen dalam jangka waktu 21 hari terhitung sejak gugatan diterima oleh BPS. Penyelesaian sengketa melalui BPSK ini dikhususkan bagi konsumen perorangan yang memiliki perselisihan dengan pelaku usaha dengan sifat penyelesaian yang cepat dan murah.

9.2        Penyelesaian Sengketa melalui Pengadilan

a.      Prosedur

Di pengadilan, penyelesaian perkara dimulai dengan mengajukan gugatan ke pengadilan yang berwenang. Penyelesaian sengketa hukum melalui pengadilan ini dilakukan dengan 3 tahap. Tahap permulaan dengan mengajukan gugatan sampai dengan jawab jinawab. Tahap penentuan dimulai dari pembuktian sampai dengan putusan, dan tahap pelaksanaan adalah pelaksanaan putusan. Setiap tahap tersebut memerlukan waktu relatif lama, mahal dan prosedur yang cukup rumit.

b.      Upaya hukum di pengadilan

Walaupun putusan yang dijatuhkan majelis BPSK bersifat final dan mengikat, para pihak yang tidak setuju atas putusan tersebut dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri untuk diputus dalam waktu 21 hari dengan waktu 14 hari untuk mengajukan kebertan ke pengadilan negeri. Terhadap putusan pengadilan negeri ini dapat diajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung RI yang akan diputus dalam waktu 30 hari, dengan waktu 14 hari untuk mengajukan kasasi.


 Kesimpulan :

Kesadaran konsumen bahwa mereka memiliki hak,kewajiban serta perlindungan hukum atas mereka harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang layak atas mereka, mengingat faktor utama perlakuan yang semena-mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan konsumen akan hak-hak serta kewajiban mereka.

Pemerintah sebagai perancang,pelaksana serta  pengawas atas jalannya hukum dan UU tentang perlindungan konsumen harus benar-benar memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi saat ini. Demikian juga dengan konsumen yang memiliki tujuan untuk memaksimalkan kepuasan jangan sampai mereka dirugikan .

 

 

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

ETIKA BISNIS (PERIKLANAN)

Dosen : Iga Ayu Nitya Dharmani, SE., MM.

 

 

ETIKA DALAM PERIKLANAN

 

Secara sederhana, etika adalah suatu suatu cabang ilmu filsafat yang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan moral.
Etika berisi prinsip-prinsip moralitas dasar yang akan mengarahkan perilaku manusia
Iklan & Etika

Definisi iklan:
Pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui sesuatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat
Definisi periklanan:
Seluruh proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, penyampaian dan umpan balik dari pesan komunikasi pemasaran
(Dikutip dari: Etika Pariwara Indonesia, cetakan 3, 2007)

Periklanan atau reklame adalah bagian tak terpisahkan dari bisnis modern. Iklan dianggap sebagai cara ampuh untuk menonjol dalam persaingan. Dalam perkembangan periklanan, media komunikasi modern : media cetak maupun elektronis, khususnya televisi memegang peranan dominan. Fenomena periklanan ini menimbulkan perbagai masalah yang berbeda.

Periklanan dilatar belakangi suatu ideologi tersembunyi yang tidak sehat, yaitu ideologi konsumerisme atau apapun nama yang ingin kita pilih untuk itu. Ada dua persoalan etis yang terkait dalam hal periklanan. Yang pertama menyangkut kebenaran dalam iklan. Mengatakan yang benar merupakan salah satu kewajiban etis yang penting. Persoalan etis yang kedua adalah memanipulasi public yang menurut banyak pengamat berulang kali dilakukan melalui upaya periklanan.

Keuntungan dari adanya iklan:
Adanya informasi kepada konsumer akan keberadaan suatu produk dan “kemampuan” produk tersebut. Dengan demikian konsumer mempunyai hak untuk memilih produk yang terbaik sesuai dengan kebutuhannya
Adanya kompetisi sehingga dapat menekan harga jual produk kepada konsumen. Tanpa adanya iklan, berarti produk akan dijual dengan cara eksklusif  (kompetisisi sangat minimal) dan produsen bisa sangat berkuasa dalam menentukan harga jualnya.
Memberikan subsidi kepada media-massa sehingga masyarakat bisa menikmati media-massa dengan biaya rendah. Hampir seluruh media-massa “hidup” dari iklan (bukan dari penghasilannya atas distribusi media tersebut). Munculnya media-media gratis memperkuat fakta bahwa mereka bisa mencetak dan mendistribusikan media tersebut karena adanya penghasilan dari iklan.
Keburukan dari adanya iklan:
Memunculkan budaya materialisme. Konsumer yang tidak memiliki kemampuan rasional yang cukup baik dapat mudah terbujuk untuk membeli/mengkonsumsi produk-produk yang mungkin bukan merupakan kebutuhan utamanya. Hal ini dapat mengakibatkan persepsi yang salah di mata masyarakat bahwa memiliki/mengkonsumsi suatu produk dianggap menaikkan harkat diri manusia. Contoh: bila belum makan hamburger, rasanya belum menjadi manusia modern.
Memunculkan perilaku stereotip yang berbahaya. Penampilan tokoh-tokoh/model pada iklan dapat menimbulkan persepsi yang salah, seperti: bicara mengenai karir berarti bicara mengenai dunia kaum pria, bicara mengenai kecantikan berarti bicara mengenai kulit yang putih, rambut yang panjang terurai, bicara mengenai keluarga bahagia berarti bicara mengenai ayah, ibu, anak pria dan anak wanita dan lain-lain.
Munculnya produk-produk yang sebenarnya berbahaya untuk dikonsumsi. Karena alasan mendapatkan perlakukan yang sama dalam berkomunikasi dengan konsumernya, maka produk-produk itu juga diperkenankan beriklan (walaupun dengan banyak batasan) sehingga mempunyai resiko produk-produk itu dikenal oleh consumer-konsumer baru yang sebelumnya belum mengenail produk-produk tersebut. Ada pula produk-produk lain yang dalam iklannya berusaha membujuk konsumernya untuk menggunakan suatu produk dengan frekuensi yang sebanyak mungkin sehingga dapat memutar roda ekonomi. Padahal penambahan frekuensi penggunaan tidaklah secara otomatis berdampak pada peningkatan kualitas hidup manusia, bahkan dalam beberapa kasus, hal ini malah bisa membahayakan diri manusia.
Efek negatif iklan bisa sangat signifikan karena 3 faktor utama dari ciri-ciri dasar iklan:
Persuasif
Iklan bagaimanapun juga akan selalu mempunyai unsur membujuk seseorang untuk mempercayai isi pesan pada iklan tersebut dengan harapan konsumer mau memperhatikan, mencoba dan menjadi loyal terhadap suatu produk/jasa.
Frekuensi
Iklan akan selalu ditampilkan dengan frekuensi yang tinggi dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak konsumer dan makin mudah diingat oleh konsumer.
Exposure
Eksposur berkaitan dengan bagaimana pengiklan berusaha “mengurung” konsumer dengan berbagai macam media untuk menyampaikan pesan-pesan iklannya. Setiap media yang digunakan berarti akan menambah tingkat eksposur dari produk/jasa tersebut sehingga konsumer selalu teringat atas produk/jasa tersebut.
Menyadari sisi baik dan buruk dari periklanan, maka perlu disusun suatu pedoman Etika Periklanan di Indonesia (yaitu kitab Etika Pariwara Indonesia).

Ciri-ciri iklan yang baik

  • Etis: berkaitan dengan kepantasan.
  • Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
  • Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.

ETIKA SECARA UMUM

  • Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
  • Tidak memicu konflik SARA
  • Tidak mengandung pornografi
  • Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
  • Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
  • Tidak plagiat

ETIKA PARIWARA INDONESIA (EPI)
(Disepakati Organisasi Periklanan dan Media Massa, 2005). Berikut ini kutipan beberapa etika periklanan yang terdapat dalam kitab EPI.

Tata Krama Isi Iklan

1. Hak Cipta:

Penggunaan materi yang bukan milik sendiri, harus atas ijin tertulis dari pemilik atau pemegang merek yang sah.

2. Bahasa:

(a) Iklan harus disajikan dalam bahasa yang bisa dipahami oleh khalayak sasarannya, dan tidak menggunakan persandian (enkripsi) yang dapat menimbulkan penafsiran selain dari yang dimaksudkan oleh perancanaan pesan iklan tersebut.

(b) Tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti “paling”, “nomor satu”, ”top”, atau kata-kata berawalan “ter“.

(c) Penggunaan kata ”100%”, ”murni”, ”asli” untuk menyatakan sesuatu kandungan harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik.

(d) Penggunaan kata ”halal” dalam iklan hanya dapat dilakukan oleh produk-produk yang sudah memperoleh sertifikat resmi dari Majelis Ulama Indonesia, atau lembaga yang berwenang.

3. Tanda Asteris (*):

(a) Tanda asteris tidak boleh digunakan untuk menyembunyikan, menyesatkan, membingungkan atau membohongi khalayak tentang kualitas, kinerja, atau harga sebenarnya dari produk yang diiklankan, ataupun tentang ketidaktersediaan sesuatu produk.

(b) Tanda asteris hanya boleh digunakan untuk memberi penjelasan lebih rinci atau sumber dari sesuatu pernyataan yang bertanda tersebut.

4. Penggunaan Kata ”Satu-satunya”: Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata “satusatunya” atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menyebutkan dalam hal apa produk tersebut menjadi yang satu-satunya dan hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.

5. Pemakaian Kata “Gratis”:

Kata “gratis” atau kata lain yang bermakna sama tidak boleh dicantumkan dalam iklan, bila ternyata konsumen harus membayar biaya lain. Biaya pengiriman yang dikenakan kepada konsumen juga harus dicantumkan dengan jelas.

6. Pencantum Harga:

Jika harga sesuatu produk dicantumkan dalam iklan, maka ia harus ditampakkan dengan jelas, sehingga konsumen mengetahui apa yang akan diperolehnya dengan harga tersebut.

7. Garansi:

Jika suatu iklan mencantumkan garansi atau jaminan atas mutu suatu produk, maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggung- jawabkan.

8. Janji Pengembalian Uang (warranty):

(a) Syarat-syarat pengembalian uang tersebut harus dinyatakan secara jelas dan lengkap, antara lain jenis kerusakan atau kekurangan yang dijamin, dan jangka waktu berlakunya pengembalian uang.

(b) Pengiklan wajib mengembalikan uang konsumen sesuai janji yang telah diiklankannya.

9. Rasa Takut dan Takhayul:

Iklan tidak boleh menimbulkan atau mempermainkan rasa takut, maupun memanfaatkan kepercayaan orang terhadap takhayul, kecuali untuk tujuan positif.

10. Kekerasan:

Iklan tidak boleh – langsung maupun tidak langsung -menampilkan adegan kekerasan yang merangsang atau memberi kesan membenarkan terjadinya tindakan kekerasan.

11. Keselamatan:

Iklan tidak boleh menampilkan adegan yang mengabaikan segi-segi keselamatan, utamanya jika ia tidak berkaitan dengan produk yang diiklankan.

12. Perlindungan Hak-hak Pribadi:

Iklan tidak boleh menampilkan atau melibatkan seseorang tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari yang bersangkutan, kecuali dalam penampilan yang bersifat massal, atau sekadar sebagai latar, sepanjang penampilan tersebut tidak merugikan yang bersangkutan.

13. Hiperbolisasi:

Boleh dilakukan sepanjang ia semata-mata dimaksudkan sebagai penarik perhatian atau humor yang secara sangat jelas berlebihan atau tidak masuk akal, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari khalayak yang disasarnya.

14. Waktu Tenggang (elapse time):

Iklan yang menampilkan adegan hasil atau efek dari penggunaan produk dalam jangka waktu tertentu, harus jelas mengungkapkan memadainya rentang waktu tersebut.

15. Penampilan Pangan:

Iklan tidak boleh menampilkan penyia-nyiaan, pemborosan, atau perlakuan yang tidak pantas lain terhadap makanan atau minuman.

16. Penampilan Uang:

(a) Penampilan dan perlakuan terhadap uang dalam iklan haruslah sesuai dengan norma-norma kepatutan, dalam pengertian tidak mengesankan pemujaan ataupun pelecehan yang berlebihan.

(b) Iklan tidak boleh menampilkan uang sedemikian rupa sehingga merangsang orang untuk memperolehnya dengan cara-cara yang tidak sah.

(c) Iklan pada media cetak tidak boleh menampilkan uang dalam format frontal dan skala 1:1, berwarna ataupun hitam-putih.

(d) Penampilan uang pada media visual harus disertai dengan tanda “specimen” yang dapat terlihat Jelas.

17. Kesaksian Konsumen (testimony):

(a) Pemberian kesaksian hanya dapat dilakukan atas nama perorangan, bukan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas.

(b) Kesaksian konsumen harus merupakan kejadian yang benar-benar dialami, tanpa maksud untuk melebih-lebihkannya.

(c) Kesaksian konsumen harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditanda tangani oleh konsumen tersebut.

(d) Identitas dan alamat pemberi kesaksian jika diminta oleh lembaga penegak etika, harus dapat diberikan secara lengkap. Pemberi kesaksian pun harus dapat dihubungi pada hari dan jam kantor biasa.

18. Anjuran (endorsement):

(a) Pernyataan, klaim atau janji yang diberikan harus terkait dengan kompetensi yang dimiliki oleh penganjur. (b) Pemberian anjuran hanya dapat dilakukan oleh individu, tidak diperbolehkan mewakili lembaga, kelompok, golongan, atau masyarakat luas.

19. Perbandingan:

(a) Perbandingan langsung dapat dilakukan, namun hanya terhadap aspek-aspek teknis produk, dan dengan kriteria yang tepat sama.

(b) Jika perbandingan langsung menampilkan data riset, maka metodologi, sumber dan waktu penelitiannya harus diungkapkan secara jelas. Pengggunaan data riset tersebut harus sudah memperoleh persetujuan atau verifikasi dari organisasi penyelenggara riset tersebut.

(c) Perbandingan tak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan khalayak.

20. Perbandingan Harga:

Hanya dapat dilakukan terhadap efisiensi dan kemanfaatan penggunaan produk, dan harus diserta dengan penjelasan atau penalaran yang memadai.

21. Merendahkan:

Iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.

22. Peniruan:

(a)  Iklan tidak boleh dengan sengaja meniru iklan produk pesaing sedemikian rupa sehingga dapat merendahkan produk pesaing, ataupun menyesatkan atau membingungkan khalayak. Peniruan tersebut meliputi baik ide dasar, konsep atau alur cerita, setting, komposisi musik maupun eksekusi. Dalam pengertian eksekusi termasuk model, kemasan, bentuk merek, logo, judul atau subjudul, slogan, komposisi huruf dan gambar, komposisi musik baik melodi maupun lirik, ikon atau atribut khas lain, dan properti.

(b) Iklan tidak boleh meniru ikon atau atribut khas yang telah lebih dulu digunakan oleh sesuatu iklan produk pesaing dan masih digunakan hingga kurun dua tahun terakhir.

23. Istilah Ilmiah dan Statistik:

Iklan tidak boleh menyalahgunakan istilah-istilah ilmiah dan statistik untuk menyesatkan khalayak, atau menciptakan kesan yang berlebihan.

24. Ketiadaan Produk:

Iklan hanya boleh dimediakan jika telah ada kepastian tentang tersedianya produk yang diiklankan tersebut.

25. Ketaktersediaan Hadiah:

Iklan tidak boleh menyatakan “selama persediaan masih ada” atau kata-kata lain yang bermakna sama.

26. Pornografi dan Pornoaksi:

Iklan tidak boleh mengeksploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apa pun, dan untuk tujuan atau alasan apa pun.

27. Khalayak Anak-anak:

(a) Iklan yang ditujukan kepada khalayak anakanak tidak boleh menampilkan hal-hal yang dapat mengganggu atau merusak jasmani dan rohani mereka, memanfaatkan kemudahpercayaan, kekurangpengalaman, atau kepolosan mereka.

(b) Film iklan yang ditujukan kepada, atau tampil pada segmen waktu siaran khalayak anakanak dan menampilkan adegan kekerasan, aktivitas seksual, bahasa yang tidak pantas, dan atau dialog yang sulit wajib mencantumkan kata-kata “BimbinganOrangtua” atau simbol yang bermakna sama.

 

Ada empat faktor yang selalu harus dipertimbangkan dalam menerapkan prinsip-prinsip etis jika kita ingin membentuk penilaian etis yang seimbang tentang iklan.

  • Maksud si pengiklan

Jika maksud si pengiklan tidak baik, dengan sendirinya moralitas iklan itu menjadi tidak baik juga. Jika maksud si pengiklan adalah membuat iklan yang menyesatkan, tentu iklannya menjadi tidak etis.

Sebagai contoh: iklan tentang roti Profile di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa roti ini bermanfaat untuk melangsingkan tubuh, karena kalorinya kurang dibandingkan dengan roti merk lain. Tapi ternyata, roti Profile ini hanya diiris lebih tipis. Jika diukur per ons, roti ini sama banyak kalorinya dengan roti merk lain.

  • Isi iklan

Menurut isinya, iklan harus benar dan tidak boleh mengandung unsur yang menyesatkan. Iklan menjadi tidak etis pula, bila mendiamkan sesuatu yang sebenarnya penting. Namun demikian, kita tidak boleh melupakan bahwa iklan diadakan dalam rangka promosi. Karena itu informasinya tidak perlu selengkap dan seobyektif seperti seperti laporan dari instansi netral.

Contohnya : iklan tentang jasa seseorang sebagai pembunuh bayaran. Iklan semacam itu tanpa ragu-ragu akan ditolak secara umum.

  • Keadaan publik yang tertuju

Yang dimengerti disini dengan publik adalah orang dewasa yang normal dan mempunyai informasi cukup tentang produk atau jasa yang diiklankan.

Perlu diakui bahwa mutu publik sebagai keseluruhan bisa sangat berbeda. Dalam masyarakat dimana taraf pendidikan rendah dan terdapat banyak orang sederhana yang mudah tertipu, tentu harus dipakai standar lebih ketat daripada dalam masyarakat dimana mutu pendidikan rata-rata lebih tinggi atau standar ekonomi lebih maju.

Contohnya : Iklan tentang pasta gigi, dimana si pengiklan mempertentangkan odol yang biasa sebagai barang yang tidak modern dengan odol barunya yang dianggap barang modern. Iklan ini dinilai tidak etis, karena bisa menimbulkan frustasi pada golongan miskin dan memperluas polarisasi antara kelompok elite dan masyarakat yang kurang mampu.

  • Kebiasaan di bidang periklanan

Periklanan selalu dipraktekkan dalam rangka suatu tradisi. Dalam tradisi itu orang sudah biasa dengan cara tertentu disajikannya iklan. Dimana ada tradisi periklanan yang sudah lama dan terbentuk kuat, tentu masuk akal saja bila beberapa iklan lebih mudah di terima daripada dimana praktek periklanan baru mulai dijalankan pada skala besar.

Seperti bisa terjadi juga, bahwa di Indonesia sekarang suatu iklan dinilai biasa saja sedang tiga puluh tahun lalu pasti masih mengakibatkan banyak orang mengernyitkan alisnya.

 

CONTOH PELANGGARAN ETIKA PERIKLANAN

2013-11-16 13.28.05
Gambar 1 Reklame dari berbagai macam produk yang berada pada Jl. Jemursari – Surabaya
Opini :
Menurut saya pemasangan reklame tersebut tidak etis. Karena penempatan reklame yang kurang tepat dan peralatan yang digunakan untuk menyangga reklame tersebut adalah kerangka bambu. Dimana ukurannya tidak sama rata (besar dan kecil) dan sangat berpotensi menimbulkan bahaya bagi banyak orang terutama pengguna jalan raya yang berlalu lalang di jalan tersebut. Selain itu penyangga reklame bisa sewaktu-waktu roboh apabila terkena hujan ataupun angin sehingga aktivitas pengguna jalan terganggu. Disisi lain mengurangi kenyamanan dan keindahan jalan. Hal tersebut telah melanggar  UU no. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Sebagian jalan diahli fungsikan sebagai tempat pemasangan reklame sehingga terlihat semrawut  dan tidak beraturan dan seharusnya jalan di fungsikan sebagaimana mestinya.
2013-11-17 04.53.29                             Gambar 2. Berbagai macam produk baliho pada Jl. Ngagel Jaya Selatan, Surabaya.
Opini :
Menurut saya, penempatan  baliho tersebut tidak tepat karena berada dan kurang aman karena penempatan baliho  dekat dengan kabel listrik. Selain itu ada beberapa baliho  menggunakan penyangga dengan kerangka bambu yang sewaktu-waktu bisa membahayakan banyak orang serta dekat dengan rumah warga sekitar. Apabila hujan dan angin berpotensi roboh dan penggangu jalan. Pemasangan reklame ini melanggar undang-undang periklanan sesuai Perda No. 8 Tahun 2006  tentang Penyelenggaraan Reklame dan Pajak Reklame Surabaya. Di samping itu penetapan pemasangan reklame di persil warga sesuai dengan undang-undang (UU) No. 28 tahun 2009. Berdasarkan UU itu, reklame dilarang dipasang di atas ruang milik jalan (rumija), karena rumija tidak boleh dijadikan ajang penarikan retribusi dan pajak daerah. Sehingga aturan itu bisa merugikan pengusaha.Penyebabnya, pemasangan reklame di luar rumija atau persil warga ukurannya maksimal hanya 4×6 meter. Di sisi lain, tingginya juga tidak boleh melebihi tinggi pohon. Atas penetapan itu, sudah jelas reklame tersebut berada di balik pepohonan kota.

Hal di atas berdasarkan Perda No.4 Tahun 2010 Bab VI Tentang Pajak Reklame:

Bagian Kesatu

Nama, Objek dan Subjek Pajak

Pasal 24

(1) Dengan nama pajak reklame dipungut pajak atas setiap penyelenggaraan reklame.

(2) Objek pajak reklame adalah semua penyelenggaraan reklame.

(3) Objek pajak reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi :

a. reklame papan/billboard/videotron/megatron/LED/Sign Net dan sejenisnya;

b. reklame kain;

c. reklame melekat, stiker;

d. reklame selebaran;

e. reklame berjalan, termasuk pada kendaraan;

f. reklame udara;

g. reklame apung;

h. reklame suara;

i. reklame film/slide, dan

j. reklame peragaan.

(4) Tidak termasuk sebagai objek pajak reklame :

a. penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya;

b. label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan, yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainnya;

c. nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau

profesi tersebut, dengan ketentuan luas tidak melebihi 2 m² (dua meter persegi) dan diselenggarakan di atas tanah/bangunan yang bersangkutan;

d. reklame yang diselenggarakan oleh Pemerintah/Pemerintah Provinsi/Pemerintah Daerah; dan

e. reklame yang memuat lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial dengan ketentuan luas bidang reklame tidak melebihi 4 m² (empat meter persegi) dan diselenggarakan di atas tanah/bangunan yang bersangkutan;

f. reklame yang diselenggarakan pada saat Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah.

Pasal 25

(1) Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan reklame.

(2) Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame.

(3) Dalam hal reklame diselenggarakan sendiri secara langsung oleh orang pribadi atau badan, Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan tersebut.

(4) Dalam hal Reklame diselenggarakan melalui pihak ketiga, pihak ketiga tersebut menjadi Wajib Pajak Reklame.

 

Bagian Kedua

Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Penghitungan Pajak

Pasal 26

(1) Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame.

(2) Dalam hal Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, Nilai Sewa Reklame sebagaimana yang telah ditetapkan berdasarkan nilai kontrak Reklame.

(3) Dalam hal Reklame diselenggarakan sendiri, Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan memperhatikan faktor jenis, bahan yang digunakan, lokasi penempatan, waktu, jangka waktu penyelenggaraan, jumlah, dan ukuran media Reklame.

(4) Dalam hal Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diketahui dan/atau dianggap tidak wajar, Nilai Sewa Reklame ditetapkan dengan menggunakan faktor-faktor

sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(5) Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dihitung dengan cara menjumlahkan Nilai jual Objek Pajak Reklame dan Nilai Strategis Penyelenggaraan Reklame.

(6) Perhitungan Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.

Pasal 27

(1) Untuk materi reklame rokok, besarnya Nilai Sewa Reklame ditambah 25% (dua puluh lima persen).

(2) Setiap penambahan ketinggian reklame sampai dengan 15 m (lima belas meter) pertama, besarnya Nilai Sewa Reklame ditambah 20% (dua puluh persen).

(3) Apabila suatu objek pajak reklame dapat digolongkan lebih dari satu jenis reklame sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat

(3), maka nilai pajaknya ditetapkan menurut jenis reklame yang nilai sewanya paling tinggi.

(4) Apabila suatu objek pajak reklame dapat digolongkan lebih dari satu kelas jalan, maka nilai pajaknya ditetapkan menurut kelas jalan yang nilai sewanya paling tinggi.

Pasal 28

Tarif pajak Reklame ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen).

Pasal 29

(1) Besaran pokok pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan Pasal 27.

(2) Apabila berdasarkan perhitungan besaran pokok pajak yangterutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat nilai dibawah ratusan rupiah maka Penetapan Nilai Pajak Reklame dibulatkan ke atas menjadi ratusan rupiah.

Bagian Ketiga

Masa Pajak dan Saat Terutangnya Pajak

Pasal 30

(1) Masa pajak reklame sebagai berikut:

a. pajak reklame untuk penyelenggaraan reklame permanen dan reklame terbatas ditetapkan 12 (dua belas) bulan;

b. pajak reklame untuk penyelenggaraan reklame insidentil ditetapkan dalam satuan hari sesuai dengan jangka waktu penyelenggaraan.

(2) Saat terutangnya pajak reklame terjadi pada saat diselenggarakan reklame atau melakukan pemasangan reklame atau sejak diterbitkan SKPD.

Kesimpulan
Semakin banyaknya jumlah perusahaan periklanan yang melakukan pelanggaran karena tidak ada sanksi yang tegas dari pemerintah daerah bagi pelanggar. Sehingga dengan seenaknya mereka melakukan pemasangan iklan di sembarang tempat tanpa memperhatikan etika dalam beriklan. Dan kurang memperhatikan dampak yang akan timbul akibat aktivitas tersebut.
Saran
Hendaknya hukum atau tata peraturan periklanan di pertegas agar perusahaan periklanan dapat memperhatikan dalam pemasangan iklan tersebut dan tidak merugikan banyak pihak. Serta sanksi-sanksi di perjelas agar pelanggaran etika dalam beriklan semakin berkurang dan tertib beriklan.
Categories: Uncategorized | Leave a comment

RESUME BUKU ETIKA BISNIS, oleh Sukrisno Agoes dan I Cenik Ardana.

COVER

BAB 6

PRINSIP DAN KODE ETIK DALAM BISNIS

Hal : 121

 

Pengertian Profesi
1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
“Profesi: bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejujuran, dan sebagainya tertentu”
”Profesional: a) bersangkutan dengan profesi; b) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya; c) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya”
Profesionalisme: merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional”.

Bisnis Sebagai Profesi
Salah satu pengertian profesi adalah “suatu pekerjaan sebagai penunjang nafkah hidup”, dari susut pandang ini maka semua aktivitas bisnis dapat dianggap sebagai profesi. Bisnis dapat menentukan pertumbuhan investasi, produksi dan peningkatan pendapatan nasional. Namun sebaliknya bisnis dapat menimbulkan suatu krisis ekonomi jika tidak dikelola secara profesional. Oleh karena itu sesuai dengan ciri-ciri profesi tersbut diatas maka, bisnis adalah suatu profesi karena dalam bisnis terdapat banyak pekerjaan, menuntut ilmu untuk mengelola dan para manajemen dituntut bermoral tinggi dan harus dikelola secara profesional.

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis
1. Menurut Caux Round, adalah:
a. Tanggung Jwab Bisnis: dari stakeholders ke stakeholders
b. Dampak Ekonomis dan Sosial dari Bisnis
c. Perilaku Bisnis: dari Hukum yang Tersurat ke Semangat Saling Percaya.
d. Sikap menghormati aturan
e. Dukungan bagi perdagangan multilateral
f. Sikap hormat bagi lingkungan alam.
g. Menghindari operasi-operasi yang tidak etis

2. Menurut Weiss:
a. martabat/hak
b. Kewajiban
c. Kewajaran
d. Keadilan

3. Menurut Sonny Keraf
a. Prinsip otonomi
b. Prinsip Kejujuran
c. Prinsip Keadilan
d. Prinsip Saling Menguntungkan
e. Prinsip Integritas Moral

Etika Lingkungan Hidup
Isu Lingkugan Hidup
Masalah etika tdak hanya dipahami sebatas pengaruh perilaku manusia terhadap manusia lainnya, tetapi juga mempelajari hubungan dan keterkaitan antara manusia dengan alam dan pengaruh tindakan manusia terhadap kerusakan lingkungan. Dari pertumbuhan ekonomi secara global, saat ini telah memunculkan enam persoalan lingkungan hidup, yaitu:
1. akumulasi bahan beracun,
2. efek rumah kaca,
3. perusakan lapisan ozon,
4. hujan asam,
5. deforestasi dan penggurunan,
6. serta kematian bentuk-bentuk kehidupan (keanekaragaman hayati)

Paradigma Etika Lingkungan
Beberapa paradigma dalam memahami etika dalam kaitannya dengan isu lingkungan hidup.
1. Etika kepentingan generasi mendatang,
2. Etika lingkungan biosentris ( dari sudut pandang manusia dan non manusia)
3. Etika ekosistem

Kode Etik di Tempat Kerja, meliputi:
1. Kode Etik Sumber Daya manusia

Enam dimensi program etik agar kode etik dapat dipenuhi :

  1. Kode etik formal : Kode etik yang dirumuskan/ditetapkan secara resmi oleh suatu organisasi profesi, suatu lembaga/entitas tertentu dsb.
  2. Kode Etika : Entitas yang mengembangkan kebijakan, mengevaluasi tindakan, menginvestigasi, dan menghakimi pelanggaran-pelanggaran etika.
  3. Sistem komunikasi etika : Cara untuk mensosialisasikan kode etik dan perubahannya, termasuk isu-isu dan cara mengatasinya yang bersifat dua arah
  4. Pejabat etika : Pihak yang mengkoordinasikan kebijakan, memberikan pendidikan, dan menyelidiki tuduhan adanya pelanggaran etika

      5.   Program pelatihan etika : Program yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membantu karyawan dalam

             merespon masalah-masalah etika

      6.  Proses penetapan disiplin : dalam hal terjadi perilaku tidak etis

2. Kode Etik Pemasaran

  1. Tanggung jawab (Responbilities)
  2. Kejujuran dan Kewajaran (Honesy and Fairness), pelaku pemasaran harus menjaga dan mengembangkan integritas, kehormatan, dan martabat profesi pemasaran
  3. Hak (Rights) dan Kewajiaban (Duties), pihak-pihak.
  4. Hubungan Organisasi (Organization Relationship)3. Kode Etik akuntansi
  1. Kompetensi
  2. Kerahasiaan
  3. Integritas
  4. Objektivitas
  5. Resolusi atas Etis

4. Kode Etik Keuangan

  1. Bertindak berdasarkan integritas, kompetensi, martabat dan bertindak etis dalam berhubungan dengan publik dst.
  2. Menjalankan dan mendorong pihak lain untuk bertindak etis dan profesional
  3. Berusaha keras untuk memeliharan dan meningkatkan kompetensi dan kompetensi pihak lain
  4. Menerapkan kehati-hatian dan menjalankan penilaian yang bersifat independen

5. Kode Etik Tekonologi Informasi

  1. Kode ini mencakup 24 keharusan yang dirumuskan sebagai pernyataan tentang tanggung jawab pribadi, mengidentifikasi unsur-unsur seperti komitmen.

 6. Kode Etik Fungsi Lainnya

Contoh Kasus :

1.Hujan Asam (Acid Rain )

   Perlombaan pendirian pabrik-pabrik di banyak kawasan industri oleh hampir semua negara demi memacu pertumbuhan ekonomi tanpa disertai program pengendalian limbah asap telah mengakibatkan banyaknya volume asap hitam pekat yang terus menerus dimuntahkan dari cerobong-cerobong pabrik tsb. Asap tebal hitam pekat ini kemudian menyatu dengan udara dan awan yang pada gilirannya menurunkan hujan asam (Acid Rain) ke bumi sekitar awan tsb. Sejak beberapa dekade terakhir ini, terutama di kawasan industri padat negara-negara maju seperti AS, Kanada, Jerman, Belanda dsb. Hujan asap ini ternyata berbahaya bagi kehidupan di bumi. Bila ini terus berlangsung, maka hujan asam itu dapat merusak hutan, mencemari air, bahkan merusak gedung-gedung.

2. ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN

Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar.

Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya.

Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran.  Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.

Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. “Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di  Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.

A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%.
Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.

Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.

KESIMPULAN

Dari kasus indomie di Taiwan dapat dilihat sebagai contoh kasus dalam etika bisnis. Dimana terjadi kasus yang merugikan pihak perindustrian Taiwan yang produknya kalah bersaing dengan produk dari negara lain, salah satunya adalah Indomie yang berasal dari Indonesia. Taiwan berusaha menghentikan pergerakan produk Indomie di Taiwan, tetapi dengan cara yang berdampak buruk bagi perdagangan Global.

SARAN

Saran bagi pihak perindustrian Taiwan agar tidah serta merta menyatakan bahwa produk indomie berbahaya untuk dikonsumsi, apabila ingin melindungi produsen dalam negeri, pemerintah bisa membuat perjanjian dan kesepakatan yang lebih ketat sebelum proses ekspor-impor dilakukan. Karena kasus tersebut berdampak besar bagi produk Indomie yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia maupun warga negara lain yang negaranya memperdagangkan Indomie asal Indonesia.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

TUGAS ETIKA BISNIS

Malaysia Curi Pasar Kelapa Sawit

ANALISIS KASUS :

  • Jenis Pelanggaran yaitu melanggar kode etik dalam berbisnis (Perlindungan terhadap kinerja produksi dan ekspor )
  • Yang melakukan pelanggaran adalah Malaysia

Akibat dari pelanggaran yang dilakukan Malaysia yakni semakin menurunnya  pasar pengimpor CPO  dari Indonesia yang berahli ke Malaysia. Serta terhambatnya CPO Indonesia dengan diberlakukannya kebijakan non-tariff barrier oleh Amerika, Tiongkok dan Jerman.

  • Kejadian di atas melanggar etika dalam bisnis terutama prinsip-prinsip dari etika bisnis, antara lain prinsip Kejujuran, prinsip keadilan, dan prinsip saling menguntungkan. Pada prinsip kejujuran, Malaysia tidak bertindak jujur yaitu memberlakukan bea keluar nol persen, sedangkan Indonesia Sembilan persen. Hal itu mengakibatkan makin berkurangn ya negara pengimpor CPO Indonesia, dimana hampir setengah dari kebutuhan kelapa sawit dunia disuplai Indonesia.
  • Pada prinsip keadilan, Malaysia dan negara pengimpor CPO yaitu Amerika, Tiongkok, dan Jerman telah memberlakukan kebijakan non-tariff barrier . Mereka bukan produsen CPO , tetapi berani mengatur produk CPO yang masuk ke negaranya. Selain itu India juga akan menaikkan bea masuk yang menyebabkan harga CPO semakin tinggi. Padahal kebijakan itu merupakan  peraturan yang seharusnya disepakati bersama-sama perjanjian perdagangan.
  • Pada prinsip saling menguntungkan, sudah jelas terlihat bahwa yang diuntungkan disini adalah Malaysia. Hal ini terlihat karena beralihnya pasar pengimpor CPO yang semula ke Indonesia kini berganti ke Malaysia. Malaysia mengalami plus dalam pemasukan negara sedangkan Indonesia mengalami minus dalam pemasukan negara. Padahal ekspor CPO ini yang bisa menekan pembengkakan defisit Indonesia.
  • Kesimpulan : Pelanggaran etika bisnis tersebut dapat melemahkan daya saing hasil industri dipasar internasional. Ini bisa terjadi karena sikap dari pihak lain dalam perdagangan tidak terbuka. Lebih parah lagi bila tidak didukung peraturan dan sanksi yang tegas dari pihak-pihak yang bersangkutan dan masih lemahnya etika dalam bisnis. Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat keprihatinan banyak pihak serta pengabaian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak hanya pada pelaku perdagangan, tetapi juga bagi tatanan ekonomi negara. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara. Melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan pada dasarnya boleh dilakukan asal tidak merugikan pihak mana pun dan tentu saja pada jalurnya.
  • Saran : Menanggapi hal ini, sebaiknya dalam melakukan perdagangan internasional harus ada perjanjian yang mengikat dimana didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang saling menguntungkan dan tidak merugikan sebelah pihak saja. Adanya ketegasan dalam sanksi apabila terdapat kecurangn-kecurangan  yang dilakukan oleh pihak lain yang terlibat didalamnya agar terjadi perdagangan yang sehat dan terus berkembang.
Categories: Uncategorized | Leave a comment

TUGAS MANAJEMEN STRATEGI

DOSEN : Arasy Alimudin, SE.,MM.,Dr.

 

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR INTERNAL (IFAS) DAN

EKSTERNAL (EFAS) PADA SAMSUNG

samsung-android-logo

 

               Strategi perusahaan mencerminkan penilaian manajemen terhadap situasi dan pilihannya tentang bagaimana mengejar tujuan perusahaan. Strategi bisa diuraikan dalam beberapa cara. Sebagai contoh, strategi bisa dijelaskan sebagai lima faktor situasi ekonomi perusahaan (Porter, 1985), yaitu: penyuplai, pembeli, pengganti, pelanggan potensial, dan persaingan di kalangan pesaing yang ada. Dalam pemasaran, strategi bisa dijelaskan sebagai pilihan dari 4P: Product (produk), Price (harga), Promotion (promosi), dan Place (tempat), yakni produk mana yang harus dihasilkan perusahaan; dan bagaimana harus didistribusikan (Kottler, 2000). Sedangkan dari segi input perusahaan, strategi operasi adalah pilihan rantai suplai perusahaan termasuk manajemen rantai terhadap sumber-daya dan kapabilitas-kapabilitas. Pilihan strategi untuk perusahaan anda selalunya adalah sebuah pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan perusahaan pada situasinya untuk memenuhi tujuan efisiensi dan efektifitasnya.

SEJARAH PERUSAHAAN

       The Samsung Group adalah konglomerat terbesar didunia. Merupakan bisnis internasional yang terletak di Korea Selatan, semua kesatuan merk Samsung, termasuk Samsung Electronics (perusahaan elektronik terbesar di dunia), Samsung Heavy Industries (salah satu shipbuilders terbesar di dunia), dan Samsung Engineering & Construction (perusahaan kontraktor global utama).  Dimanapun Anda berada,  di tengah keramaian jalan raya atau dalam kenyamanan rumah Anda, Samsung adalah bagian dari kehidupan Anda. Sebagai pemimpin global, Samsung ada di garis terdepan perubahan, mengantisipasi apa yang diinginkan oleh pelanggan di seluruh dunia pada hari esok. Dengan penjualan bersih yang terus meningkat, pada tahun 2007 mencapai angka $ 174,2 milyar dengan aset dan kewajiban total pada tahun 2007 sebesar $ 302,9 milyar dan $ 192,7 milyar. Memperkerjakan 263.000 karyawan yang tersebar diseluruh dunia, memanfaatkan kekuatan revolusi digital untuk menciptakan terobosan produk dan layanan yang akan membawa konsumen dan bisnis di luar imajinasi mereka.

Di Samsung, prinsip bisnis Samsung menjadi dasar dari setiap keputusan yang dibuat, diantaranya: Prinsip memenuhi hukum dan standar etika, prinsip menghargai konsumen, pemegang saham dan karyawan, prinsip tanggung jawab secara sosial sebagai warga korporat, prinsip menjaga budaya organisasi yan bersih, prinsip peduli akan lingkungan, kesehatan, dan keamanan.  

       Berawal dari bisnis ekspor kecil di Taegu, Korea, Samsung telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan elektronik terkemuka di dunia, dengan spesialisasi pada media dan peralatan digital, semikonduktor, memori, dan integrasi sistem. Kini proses dan produk inovatif dan berkualitas Samsung telah diakui di dunia. Itu semua menjadi tonggak utama dalam sejarah Samsung, menunjukkan bagaimana perusahaan ini telah mengembangkan jajaran dan pencapaian produknya, meningkatkan pendapatan dan saham pasarnya, dan mengikuti misinya untuk memberikan hidup yang lebih baik bagi pelanggan di seluruh dunia.

       Pada tanggal 1 Maret 1938, pendiri dan sekaligus chairman Byung-Chull Lee memulai bisnis di Taegu, Korea dengan modal 30,000 won. Pada awalnya, bisnis kecil-kecilan Tuan Lee terutama bergerak di bidang ekspor barang dagangan, menjual ikan, sayur, dan buahbuahan kering dari Korea ke Manchuria dan Beijing. Namun hanya dalam waktu satu dekade, Samsung— yang secara harfiah  berarti “tiga bintang” dalam  Bahasa Korea — telah memiliki pabrik tepung dan pabrik gula sendiri, berikut mesin dan operasional penjualannya sendiri, dan akhirnya menjadi cikal-bakal sebuah perusahaan global modern yang saat ini masih tetap mengemban nama yang sama. Pada tahun 1970 pada awalnya Samsung memproduksi TV hitam putih (model: P3202) yang dimulai oleh Samsung-Sanyo. Bisnis teknologi inti Samsung mengalami diversifikasi dan dikembangkan secara global pada akhir 1970an dan awal 1980an. Fokus Samsung yang semakin meningkat pada teknologi menghasilkan didirikannya dua institut penelitian dan pengembangan perusahaan (R&D) yang membantu mengembangkan jangkauannya lebih jauh ke dalam elektronika, semikonduktor, chemical high polymer, genetic engineering, telekomunikasi optik, aerospace, dan bidang teknologi baru dari nanoteknologi untuk mengembangkan arsitektur jaringan.

      Pada 19 November 1987, Pendiri Samsung Byung-Chull Lee meninggal dunia setelah hampir lima puluh tahun memimpin perusahaan. Anak laki-lakinya, Kun-Hee Lee menggantikannya sebagai Chairman baru. Selama periode ini, Samsung memiliki tantangan untuk me-restrukturisasi bisnis lama dan memasuki bisnis baru dengan tujuan untuk menjadi salah satu dari lima perusahaan elektronik teratas dunia.

       Tahun 1990an menghadirkan tantangan besar untuk bisnis teknologi tinggi. Merger, koalisi dan pembelian adalah hal biasa ketika persaingan dan konsolidasi semakin berkembang. Perusahaan ditekan untuk memikirkan kembali teknologi dan penawaran layanannya. Bisnis mulai melintasi perbatasan antarnegara dan perusahaan. Samsung membuka sebagian besar peluang ini dengan memfokuskan kembali strategis bisnisnya untuk merespon keinginan pasar dengan lebih baik.

Pada pertengahan 1990an, Samsung merevolusi usahanya melalui dedikasi untuk membuat produk berkelas dunia, dengan memberikan kepuasan pelanggan sepenuhnya, dan menjadi perusahaan yang bersih – semua di bawah visi “kualitas adalah yang utama.” Meskipun pada tahun 1997 terjadi krisis keuangan yang mempengaruhi hampir semua bisnis di Korea, Samsung menjadi salah satu perusahaan yang dapat terus tumbuh, berkat kepemimpinannya di bidang teknologi digital dan jaringan, dan konsentrasinya pada bidang elektronik, keuangan dan layanan terkait.

Samsung merespons krisis dengan mengurangi jumlah perusahaan afiliasi menjadi 45 (jumlah yang sesuai dengan aturan pada Peraturan Monopoli dan Hukum Perdagangan Bebas), mengurangi hampir 50.000 orang karyawan, menjual 10 unit bisnis, dan meningkatkan struktur keuangan, menurunkan rasio utang pada tahun 1997 sebesar 365% menjadi 148% pada akhir tahun 1999.

          Pada awal tahun 2000-an Era digital telah membawa perubahan –  dan kesempatan – yang revolusioner bagi bisnis secara global, dan Samsung telah menjawabnya dengan teknologi yang canggih, produk yang kompetitif, dan inovasi yang konstan.

Komitmen Samsung untuk menjadi yang terbaik di dunia telah membuat Samsung sebagai pemegang pangsa pasar global terbesar untuk tiga belas item di antara produknya, termasuk semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA. Dengan pandangan ke depan, Samsung telah membuat kemajuan bersejarah di bidang riset dan pengembangan lini semikonduktor, termasuk flash memori dan non-memori, semikonduktor khusus pesanan, DRAM dan SRAM, dan juga memproduksi LCD yang terbaik di kelasnya, telepon seluler, peralatan digital, dan lebih banyak lagi.

Visi, misi dan tujuan SAMSUNG adalah sebagai berikut :

1.      VISI

Visi dari SAMSUNG adalah “Memimpin pergerakan konvergensi digital.”.

Samsung meyakini bahwa melalui inovasi teknologi saat ini, samsung akan menemukan solusi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hari esok. Teknologi membuka kesempatan—bagi bisnis untuk tumbuh, bagi warga negara di pasar yang sedang berkembang untuk hidup sejahtera dengan memasuki tahap ekonomi digital, dan agar masyarakat dapat menemukan peluang baru. Tujuan Samsung adalah mengembangkan teknologi yang inovatif dan proses efisien yang menciptakan pasar baru, memperkaya hidup semua orang, dan terus menjadikan Samsung sebagai pemimpin digital yang terpercaya

2.      MISI

Misi dari SAMSUNG adalah Menjadi “d igital -e Company” yang terbaik

misi samsung

3.      TUJUAN

1. Market leader number one in sales, volume, and market share. Yakni menjadi pemimpin

pasar dalam bisnis elektronik dengan volume penjualan nomor satu.

2.Best distribution network, yakni memiliki jaringan distribusi yang luas

3.Mengembangkan teknologi yang inovatif dan proses efisien yang menciptakan pasar baru

4.Terus menjadikan Samsung sebagai pemimpin digital yang terpecaya

 

A.   MARKETING MIX PERUSAHAAN

1.  Produk

Samsung lebih memilih untuk memciptakan produk-produk high-end yang tentu saja menawarkan stylish best-practice products. Produk-produk tersebut antara lain :

DRAM, SRAM, Flash memory, CDMA mobile phones, TFT-LCDs, Computer monitors, Big-screen TVs, VCRs, DVD players, MP3 players, Microwave ovens, dan lain-lain

2.  Price

Samsung lebih menekankan pada kualitas produk, sehingga penentuan harga ditetapkan berdasarkan pada tingkat kualitas masing-masing produk tersebut.

3.   Place

Berhubungan dengan pendistribusian produk kepada konsumen, Samsung tidak lagi menggunakan outlet-outlet distribusi yang murah seperti Wal-Mart dan Target, melainkan mempercayakannya pada level yang lebih tinggi Samsung upmarket seperti Best Buy dan Circuit City.

4.    Promotion

Dalam rangka rebranding, Samsung telah mengurangi 55 agency periklanan dan hanya memusatkannya pada satu perusahaan. Samsung menandatangani kontrak $ 400 juta dengan Madison Avenue firm, Foote, Cone & Belding Worldwide. Perusahaan tersebut bertugas untuk menciptakan sebuah global brand image  untuk Samsung yaitu sebagai pembuat stylish best-practice products.

 B.   ANALISIS INTERNAL PERUSAHAAN

Perusahaan berfokus pada lima aspek utama, yaitu:

  1. Hardware

 Samsung lebih menekankan untuk memproduksi Hardware dan memilih untuk tidak mengembangkan kepemilikan software dan konten seperti musik, film dan video games. Meskipun software dinilai mempunyai profit margin yang lebih besar dan siklus hidup yang lebih lama. Namun, strategi Samsung adalah focus pada hardware dan perangkatnya dan berkolaborasi dengan provider konten ketika sudah tepat.

  1. Integrasi vertical

Samsung melakukan outsource ke external supplier dan lebih serius pada kegiatan manufaktur yang mandiri. Samsung berpikir bahwa dengan menguasai manufaktur yang mandiri, maka akan dapat menghasilkan  advanced products. Oleh karena itu Samsung  pun berani menginvestasikan dananya untuk pabrik chip.

Samsung juga sangat perhatian untuk menekan biaya serendah mungkin. Salah satunya terwujud dalam pemilihan lokasi, Samsung mengoperasikan 12 pabrik/manufakturdi China pada tahun 2003 dan juga India dengan tujuan mengambil keuntungan yang berlimpah dengan tarif upah kerja SDM yang murah terutama pada sektor teknologi.

Samsung sangat  cerdik  mencegah  komoditas  supaya  tidak  terjebak, yaitu dengan mengkostumisasi/mengkombinasikan  produksi  sebanyak  mungkin.  Sebagai  contoh sebagian  dari memori  chip  yang  diproduksi  adalah  special order untuk Dell, Microsoft bahkan Nokia. Sebagai hasilnya, harga  rata-rata Samsung adalah 17% diatas  level  industri. Begitu pula pada pasar telepon seluler. Sementara rata-rata bisnis elektronik  lainnya melakukan outsource pada manufaktur dan focus pada  core  competencies  nya,  Samsung  lebih  fokus  pada  manufaktur  sebagai  kompeten utamanya.

  1. Digital Product Innovation

Samsung sangat  gemar melakukan inovasi, salah satu inovasinya yaitu dengan melakukan perubahan teknologi analog ke digital. Dengan fokus berinvestasi di produk teknologi digital, Samsung dapat memposisikan produk-produknya sebagai produk premium. Samsung juga menerapkan Sashimi  Theory  yaitu  menjual  dengan  harga  tinggi  pada  hari  pertama disaat masih fresh, namun menurunkan harganya secara dramatis setelahnya karena produk sudah tidak lagi fresh.

  1. Diversifikasi produk,

Samsung bertujuan untuk menaikkan harga dan profit margin dengan menjual produk-produk yang berkualitas tinggi, tidak hanya ditekankan pada teknologi baru, tapi juga desain. Ini membutuhkan strategi inovasi yang dapat menghasilkan produk-produk yang baru dan menarik. CEO Yun memutuskan bahwa Samsung hanya akan menjual produk-produk high-end, sehingga membutuhkan investasi dengan jumlah besar untuk penelitian. Penerapan inovasi desain tersebut  tidak hanya untuk produk-produk final consumer, tapi pada input-input yang penting.

Oleh karena itu, diversifikasi  produk membuat Samsung menjadi berbeda  dari  kompetitornya sehingga Samsung dapat masuk  dalam  setiap  kategori  elektronik. Diversivikasi memungkinkan  Samsung  ikut  bermain  di  siklus  chip  yang  juga  dipakai  oleh beberapa produsen elektronik lainnya. Dengan  strategi  memposisikan  produk  yang  terperinci,  maka  Samsung akan semakin mudah untuk memasarkan kepada segmen yang tepat.

  1. Digital-Convergence Strategy

Samsung memusatkan  perusahaannya  untuk  bermain  di  produk  teknologi  digital. Ia pun berhasil berdiri sebagai leader dalam era digital.

Samsung’s Digital  Convergence  mengacu  pada  dua  trend, yaitu  menggabungkan  beberapa  teknologi  ke dalam  satu produk  utama  (major  product)  dan  beberapa  teknologi  yang terhubung dalam satu jaringan. Sebagai contoh Palm OS yang digabungkan  dengan  Cell  phone  dan  Cell  phone  yang digabungkan dengan kamera menjadi tipe SPH-i700. Dengan pemusatan pada teknologi digital, maka akan membawa kepada jaringan dimana-mana.

C.  ANALISIS EKSTERNAL PERUSAHAAN

Samsung vs Sony

      Sejak 2003 penjualan Sony cukup stagnan atau cenderung turun. Selain itu profitabilitas merosot sejak tahun 1997. Penyebabnya adalah Sony tidak pernah lagi meluncurkan produk-produk inovasi baru. Perusahaan tersebut gagal berinvestasi secara dini dan agresif dalam mengembangkan produk-produknya yang menyebabkan kalahnya persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain.

      Lain halnya dengan Samsung, Samsung merupakan sebuah perusahaan yang tidak sebesar Sony namun menawarkan produk-produk unggulan dan berkinerja hebat. TV dan produk electronics Samsung juga dikenal karena kualitasnya yang bagus. Samsung menduduki peringkat pertama untuk semikonduktor dan cukup tinggi peringkatnya untuk monitor LCD dan TV LCD. Samsung berhasil menemukan tren utama dalam industri elektronik dan berinvestasi secara agresif. Oleh karena itu kondisi keuangan Samsung dapat dikatakan lebih baik daripada Samsung

      Sony memiliki sejarah meluas ke luar negeri yang lebih banyak daripada Samsung. Sony memiliki banyak pabrik produksi di luar negeri di seluruh dunia, Samsung memang kalah dari Sony dalam segala aspek globalisasi. Namun Samsung lebih sigap memanfaatkan peluang-peluang dan merancang strateginya, sebagai contoh strategi dalam menciptakan brand-marketing, dalam bidang sponsorship, R n D, dan desain produknya.

Industry Analysis

1. Economic& Demographic              

Dalam samsung menurut pengamatan kami produk smartphone samsung membidik pangsa remaja lanjut hingga separuh baya , sedangkan dalam hal ekonomi samsung membidik pangsa pasar menengah keatas

2. Social& Culture        

Meskipun merupakan perusahaan yang berbasis di Korea Selatan, Samsung telah berhasil meng-integrasikan dirinya dengan baik di pasar negara berkembang di mana ia melakukan bisnis. Hal ini telah menghasilkan pola pikir, dan berperilaku lokal yang sangat efektif dalam menjembatani kesenjangan budaya dan sosial antara lanskap bisnis di Negara asalnya dan pasar di mana ia beroperasi. Satu aspek yang sangat mengganggu dan menjadi budaya perusahaan terhadap pejabat setempat dalam hal yang menyangkut suap-menyuap untuk memperlancar bisnisnya. Perusahaan mencoba untuk mencapai keseimbangan antara nilai-nilai aspirasi dari segi kelas konsumen dan tingkat pendapatan yang mereka miliki.                   

3. Technology& Natural Resources

Persaingan smartphone dan tablet di era sekarang menuntut banyaknya inovasi dan tekhnologi yang baru baik dari sisi Hardware maupun Softwarenya. Seperti banyaknya bermunculan OS baru yang mana OS merupakan software sebuah smartphone. Smartphone atau pun table juga memiliki sistem operasi yang powerfull untuk mendukung beragam aplikasi dan kebutuhan penggunanya. OS yang sekarang sedang marak di perbincangkan antara lain adalah :

-  Android. Sekarang ini segala penjuru dunia pengguna gadget sudah mengenal Android. Android di kembangkan berdasarkan sistem kernel linux sehingga di kategorikan dalam sistem operasi yang bersifat terbuka. Semua vendor ponsel ternama untuk sekarang sudah menggunakan Android sebagai OS nya tidak terkecuali Samsung

-  Bada. Bada adalah sebuah mobile operating System yang telah dikembangkan oleh Samsung Elektronics. OS ini di desain untuk high-end smartphones dan lower-end feature phones. Samsung menklaim bahwa Bada akan menggantikan tempat di dunia property feature phone platform, menggantikan feature phones menjadi smartphone.

-   Blackberry OS. Blackberry OS mempunyai keunggulan pada fiturnya yang bernama Blackberry Messenger yaitu pesan instant sesama pengguna perangkat Blackberry.

-   iOS. Tentunya kita sudah tak asing lagi dengan device yang bernama iPhone. iOS adalah sistem operasi yang hanya bisa di temui pada perangkat pabrikan Apple Inc. iOS merupakan sistem operasi yang di kembangkan dari Mac OS X. iOS juga merupakan sistem operasi yang open source di bawah naungan Apple Public Source License (APSL). Di iOS terdapat abstraction layers, Core OS layers, Core Service layers, Media layers, Cocoua Touch Layers. iOS juga terkenal akan SIRI yaitu sejenis voice command yang terkenal akan ke akuratan nya. iOS juga memiliki interface yang sangat elegan. Pada versi terbaru, terdapat perubahan baru dan “penambalan” atas bug, terdapat juga iMessage yang merupakan instant messenger bagi sesama pengguna IOS.

-  MeeGO. MeeGo adalah sebuah sistem operasi mobile yang berbasis linux dan sebuah proyek open source alias gratis. MeeGo dikembangkan untuk berbagai perangkat keras seperti netbook, komputer tablet, nettops (dekstop komputer yang berbentuk lebih kecil), in-vehicle infotaiment devices (perangkat infotaiment dalam kendaraan), smartTV, smartphone dan lain sebagainya. MeeGo OS merupakan OS yang terhitung baru dan diperkenalkan pada Mobile World Congress tahun 2010 dan yang memperkenalkan adalah Intel dan Nokia.

-  Palm OS. Palm OS merupakan sistem operasi smartphone dan PDA yang dikembangkan oleh Palm Inc. pada tahun 1996. Palm OS diciptakan untuk memberikan kemudahan kepada penggunanya ketika digunakan dengan user interface yang berbasis touchscreen. Saat ini, versi berlisensi dari merek dagang Palm OS berubah menjadi OS Garnet dengan versi terbarunya Palm OS Garnet 5.4.9. Palm OS awalnya dikembangkan di bawah komando Jeff Hawkins dari palmComputing, Inc. lalu kemudian diakuisisi oleh US Robotic Corp dan akhirnya dibeli oleh 3Com. Pada bulan Januari 2002 silam, Palm mendirikan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki untuk dikembangkan dengan lisensi Palm OS yang dinamakan dengan PalmSource. Tahun 2007 tepatnya pada tanggal 25 Januari, ACCESS mengumumkan perubahan nama sistem Palm dari Palm OS menjadi OS Garnet hingga sekarang ini.

-  Symbian. Nokia adalah salah satu merk lawas yang hampir semua orang sudah mengetahuinya. Symbian juga bukanlah sistem operasi yang open source, tetapi karna diperlukan API sehingga banyak pihak developer yang salah meng-artikan bahwa source code nya tidak di distribusikan secara bebas.

-  Windows Phone. Tidak hanya membuat sistem operasi untuk kebutuhan dekstop, Microsoft juga ikut bersaing dalam sistem operasi mobile. Versi terbaru OS buatan Microsoft ini adalah Windows Phone 8 yang akan berjalan di atas kernel Windows NT, yang biasa digunakan untuk segmen entreprise. Nokia dan HTC adalah dua dari sekian vendor gadget yang menggunakan OS ini. Jajaran ponsel Nokia yang menggunakan OS Windows Phone adalah seri Lumia. Sedangkan beberapa seri smartphone HTC yang memakai OS ini adalah HTC Zenith, HTC Accord dan HTC Rio.

Paparan di atas menjelaskan perkembangan OS atau software untuk smartphone di era sekarang. Sedangkan dari hardware nya sendiri banyak tekhnologi baru yang bermunculan seperti Layar 1080 full HD , Prosesor Quad-Core (chip empat inti dan chip provider seluler yang bisa terhubung dengan jaringan LTE) , Waterproof , Eye tracking , dll.

Untuk Sumber Daya Samsung sendiri, perusahaan Samsung ini menyaring tenaga kerja yang terbaik di tiap daerahnya dilengkapi dengan banyak program training untuk meningkatkan kompetensi SDM nya. Selain itu, Samsung juga mulai menerapkan green program yang bertujuan untuk meminimumkan penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti penggunaaan panel surya di smartphone nya dan penggunaan bahan daur ulang untuk membuat unit smartphone nya.

D.Analisis SWOT  pada SAMSUNG

Identifikasi Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Ancaman) :

Strength :

  • Samsung memiliki brand image yang melekat dikalangan masyarakat
  • Samsung telah memprakarasai Era Digital
  • Teknologi yang diciptakan mengikuti perkembangan jaman
  • Samsung senantiasa melakukan inovasi-inovasi pada perkembangan produknya
  • Samsung menawarkan produk-produk yang berkualitas
  • Desain produk-produk Samsung sangat baik dan di unggulkan
  • Adanya diversifikasi produk
  • Harga produk-produk Samsung bervariasi dan rata-rata terjangkau
  • Samsung merupakan supplier high end mobile headset
  • Samsung merupakan pemegang pangsa pasar gobal terbesar untuk tiga belas item diantara produk Samsung, termasuk semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA
  • Samsung telah membuat kemajuan bersejarah di bidang R&D lini semikonduktor, termasuk flash memori dan non memori, semikonduktor pesanan, DRAM dan SRAM, dan juga memproduksi LCD terbaik di kelasnya, telpon seluler, peralatan digital dll
  • Samsung mengadakan partnership dengan Amerika dan perusahaan ternama.

Weakness :

  • Samsung harus terus menerus memaintain semua biaya untuk tetap sukses
  • Investasi tinggi pada kativitas R&D (menginvestasikan paling sedikit 9% dari pendapatan penjualan pada aktivitas R&D)
  • Budaya korporasi yang tidak fleksibel
  • Pengalaman dalam mengelolah perusahaan global masih terbatas
  • Adanya tekanan yang ketat pada karyawan untuk mancapai sasaran
  • Samsung tidak memiliki strategi marketing, masalah penyebaran produk akan meningkat
  • Samsung belum memiliki banyak pengalaman pada televisi berteknologi tinggi pada segmen tsb
  • Samsung belum memiliki jaringan penjualan dan pelayanan yang sebanding dengan pesaingnya

Opportunity :

  • Produk-produk yang ditawrarkan Samsung merupakan produk keperluan rumah tangga yang dicari
  • Era digital yang terus berkembang di jaman yang semakin modern
  • Adanya peningkatan permintaan masyarakat akan barang-barang elektronik yang sudah merupaka suatu kebutuhan
  • Tingkat gengsi pada masyarakat yang selalu ingin memiliki produk elektronik terbaru dan tercanggih
  • Pengaruh globalisasi yang mendorong pemasaran barang elektronik yang tiada batas
  • Permintaan masyarakat pada produk-produk yang gaya, best practice, simple dan respon yang cepat pada perubahan pasar
  • Samsung memiliki program yang memperkuat pikiran dan mendorong kreativitas generasi muda

Threat :

  • Adanya ketergantungan produk-produk lokal pada negara tertentu sehingga pasar sulit ditembus
  • Kekuatan merk lain yang lebih dahulu menguasai pasar
  • Munculnya produk-produk baru dari perusahaan lain yang lebih inovatif
  • Adanya produk-produk dari perusahaan lain yang menawarkan harga yang lebih mudah dengan kualitas yang tidak kalah bagus
  • Ketidakstabilan perekonomian tiap-tiap negara
  • Era globalisasi yang mendorong perusahaan Eropa masuk dan melakukan penetrasi pasar Asia
  • Konsumen memiliki banyak pilihan terhadap merk lain
  • Lingkungan bisnis yang sangat tidak pasti dan pasar yang semakin kompetitif
  • Terjadinya krisis financial yang menyebabkan turunya daya belia masyarakat
  • Kompetisi intens pada produk televisi berwarna
  • Budaya Korea yang lebih menekankan hirerki yang dapat menghambat ide-ide kreatif atau pendapat yang berbeda

 

Berdasarkan analisa internal dan eksternal, diperoleh butir-butir kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman. Maka dapat ditentukan pembobotan dari masing masing butir tersebut. bobot setiap factor dari Strength, Weakness, Opportunity, Threats diberi nilai = 1,00. sedangkan untuk masing – masing rating factor akan diberi criteria sebagai berikut :

Untuk rating faktor Strength diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Kuat
  • Rating 2          : Agak Kuat
  • Rating 3          : Kuat
  • Rating 4          : Sangat Kuat

Untuk rating faktor Weakness diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Lemah
  • Rating 2          : Agak Lemah
  • Rating 3          : Lemah
  • Rating 4          : Sangat Lemah

Untuk rating faktor Threat diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Mengancam
  • Rating 2          : Agak Mengancam
  • Rating 3          : Mengancam
  • Rating 4          : Sangat Mengancam

Untuk rating faktor Opportunity diberi kriteria :

  • Rating 1          : Sedikit Peluang
  • Rating 2          : Agak Peluang
  • Rating 3          : Peluang
  • Rating 4          : Sangat Peluang

 

F. Matriks SWOT Kearns

                                    Eksternal Internal

OPPORTUNITY

TREATHS

STRENGTH ComparativeAdvantage Mobilization
WEAKNESS Divestment/Investment Damage Control

 Agar SAMSUNG dapat menganalisis situasi saat ini, maka digunakanlah analisis SWOT dengan melakukan penilaian terhadap faktor internal dan eksternal menggunakan pendekatan kuantitatif. Penilaian terhadap indikator digunakan nilai berskala empat, yaitu satu = di bawah rata-rata; dua = rata-rata; tiga = di atas rata-rata; dan empat = sangat baik.

IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary)

Strength (Kekuatan)

Nilai

Bobot

Rating

Skor

Samsung memiliki brand image yang melekat di kalangan masayarakat

3

0.07

4

0.28

Samsung telah memprakarsai Era Digital

4

0.09

4

0.36

Teknologi yang diciptakan mengikuti perkembangan jaman

4

0.09

4

0.36

Samsung senantiasa melakukan inovasi-inovasi pada perkembangan produknya

4

0.09

4

0.36

Samsung menawarkan produk-produk yang berkualitas

4

0.09

4

0.36

Desain produk-produk Samsung sangat baik dan di unggulkan

3

0.07

3

0.21

Adanya diversifikasi produk

3

0.07

3

0.21

Harga produk-produk Samsung bervariasi dan rata-rata terjangkau

4

0.09

3

0.27

Samsung merupakan supplier high end mobile headset

4

0.09

3

0.27

Samsung merupakan pemegang pangsa pasar global terbesar untuk tiga belas item di antara produk Samsung, termasuk semikonduktor, TFT-LCD, monitor dan ponsel CDMA

3

0.07

3

0.21

Samsung telah membuat kemajuan bersejarah di bidang R&D lini semikonduktor, termasuk flash memori dan non memori, semikonduktor pesanan, DRAM dan SRAM, dan juga memproduksi LCD yang terbaik di kelasnya, telpon seluler, peralatan digital dll

3

0.07

2

0.14

Samsung mengadakan partnership dengan Amerika dan perusahaan ternama

3

0.07

2

0.14

Total

45

0.96

3.17

 

Weakness (Kelemahan)

Nilai

Bobot

Rating

Skor

Samsung harus terus menerus memaintain semua biaya untuk tetap sukses

3

0.12

-2

-0.24

Investasi tinggi pada aktivitas R&D (menginvestasikan paling sedikit 9% dari pendapatan penjualan pada aktivitas R&D)

3

0.12

-2

-0.24

Budaya korporasi yang tidak fleksibel

3

0.12

-1

-0.12

Pengalaman dalam mengelolah perusahaan global masih terbatas

3

0.12

-4

-0.48

Adanya tekanan yang ketat pada karyawan untuk mancapai sasaran

3

0.15

-2

-0.30

Samsung tidak memiliki strategi marketing, masalah penyebaran produk akan meningkat

4

0.15

-4

-0.60

Samsung belum memiliki banyak pengalaman pada televisi berteknologi tinggi pada segmen tsb

3

0.15

-3

-0.45

Samsung belum memiliki jaringan penjualan dan pelayanan yang sebanding dengan pesaingnya

4

0.15

-4

-0.60

Total

26

1.08

-3.03

 

EFAS (External Strategic Factors Analysis Summary)

Opportunity (Peluang)

Nilai

Bobot

Rating

Skor

Produk-produk yang ditawarkan Samsung merupakan produk keperluan rumah tangga yang selalu dicari

4

0.17

4

0.68

Adanya peningkatan permintaan masyarakat akan barang-barang elektronik yang sudah merupakan suatu kebutuhan

4

0.17

4

0.68

Tingkat gengsi pada masyarakat yang selalu ingin memiliki produk elektronik terbaru dan tercanggih

3

0.13

3

0.39

Pengaruh globalisasi yang mendorong pemasaran barang elektronik yang tiada batas

3

0.13

3

0.39

Era digital yang terus berkembang di jaman yang semakin modern

3

0.13

3

0.39

Permintaan masyarakat pada produk-produk yang gaya, best practice, simple,dan respon yang cepat pada perubahan pasar

3

0.13

2

0.26

Samsung memiliki program yang memperkuat pikiran dan mendorong kreativitas generasi muda

3

0.13

2

0.26

Total

23

3.05

 

Threat (Ancaman)

Nilai

Bobot

Rating

Skor

Adanya ketergantungan produk-produk lokal pada negara tertentu sehingga pasar sulit ditembus

4

0.11

-3

-0.33

Kekuatan merk lain yg lebih dahulu menguasai pasar

4

0.11

-4

-0.44

Munculnya produk-produk baru dari perusahaan lain yang lebih inovatif

4

0.11

-4

-0.44

Adanya produk-produk dari perusahaan lain yang menawarkan harga yang lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah bagus

3

0.09

-4

-0.36

Ketidakstabilan perekonomian tiap-tiap negara

3

0.09

-3

-0.27

Era globalisasi yang dapat mendorong perusahaan Eropa masuk dan melakukan penetrasi pasar Asia

3

0.09

-3

-0.27

Konsumen memiliki banyak pilihan terhadap merk lain

3

0.09

-3

-0.27

Lingkungan bisnis yang sangat tidak pasti dan pasar yang semakin kompetitif

3

0.09

-4

-0.36

Terjadinya krisis financial menyebabkan turunya daya beli masyarakat

3

0.09

-3

-0.27

Kompetisi intens pada produk televisi berwarna

3

0.09

-2

-0.18

Budaya Korea yang lebih menekankan hirerki yang dapat menghambat ide-ide kreatif atau pendapat yang berbeda

3

0.09

-2

-0.18

Total

36

1.05

-3.37

 

G. ANALISIS MATRIKS SWOT

  • Berdasarkan hasil-hasil yang didapat dari analisis internal dan eksternal pada table dituliskan diatas, hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut :

-    Skor total Total Strength       : 3.17

-    Skor Total Weakness             : -3,03

-     Skor Total Opportunity          : 3.05

-     Skor Total Threat                 : -3.37

 

Maka, penentuan SAMSUNG dapat digambarkan sebagai matrik SWOT, seperti :

  • Koordinat Analisis Internal:

Sumbu x = (Skor Kekuatan – Skor Kelemahan)/2

(3,17 – 3,03) :  2 =  0,07

  •   Koordinat Analisis Ekternal:

Sumbu y = (Skor Peluang – Skor Ancaman)/2

(3,05 – 3,37) :  2 =  -0,16

 

Jadi, titik koordinatnya terletak pada (0,07 ; -0,16 )

 

 

Diagram SWOT

untitled

 

 Kesimpulan

         Berdasarkan nilai bobot dan rating setiap unsur matrik di atas,  maka  diketahui bahwa posisi perusaaahn saat ini berada pada kuadran IV, yaitu kuadran combination yang terletak pada titi koordinat (0.07,-0.16).

Kuadaran

Posisi titik

Luas Matriks

Ranking

Prioritas Strategi

I

(3.34; 3.05)

10.19

3

Rentrechment

II

(3.03; 3.05)

9.24

4

Stability

III

(3.03; 3.37)

10.21

2

Growth

IV

(3.34; 3.37)

11.26

1

Combination

 

Setelah diketahui titik koordinat tersebut maka posisi unit perusahaan di ketahui pada kuadran IV sehingga mempunyai strategi yang lebih baik dan penyempurnaan analisis dengan menghitung luasan wilayah pada tiap kuadran.

  1. Pada kuadran I ( S O Strategi ) strategi umum yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengambil setiap keunggulan pada kesempatan

a. Memperkenalkan merek untuk pertumbuhan usaha dan perluasan pasar

b. Selalu melakukan inovasi pada produk – produknya

             c. Investasi pada R&D dan terus mengadakan partnership dengan perusahaan-perusahaan ternama untuk

                  menghadapi pemasaran tiada batas

              d. Memanfaatkan produksi massal, sehingga biaya dapat ditekan dan dapat menawarkan harga yang murah

       2. Pada kuadran II ( W O Strategi ) perusahaan dapat membuat keunggulan pada kesempatan sebagi acuan untuk

memfokuskan kegiatan dengan menghindari kelemahan.

a. Pangsa pasar baru untuk meningkatkan profitabilitas

b . Memenuhi kebutuhan konsumen dan menjual produk berkualitas dunia

c. Menaikkan margin inovasi produk untuk mengendalikan keuntungan

d. Membeli/bekerja sama dengan perusahaan lain untuk memperoleh teknologi lanjut untuk lebih mempercepat

kemajuan teknologi, namun sebelumnya harus mempelajari teknik-teknik merger dan akuisisi di luar

negeri/Akuisi teknologi baru untuk inovasi

3. Pada kuadran III ( S T Strategi ) Menjadikan setiap kekuatan untuk menghadapi setiap ancaman dengan

menciptakan diversifikasi untuk menciptakan peluang

a. Membuat brand-image Samsung lebih mendunia, sehingga konsumen lebih tertarik pada samsung

b. Terus menerus melakukan inovasi produk agar tidak kalah dengan kompetitor lainnya

c. Perhatian lebih pada teknologi, kualitas, deferensiasi produk, dan kepeminpinan harga dengan tetap

mengedepankan kualitas.

d. Secara aktif berinvestasi pada pemasaran dan distribusi dan memperluas pasar dengan memanfaatkan

kekuatan- kekuatan yang dimilikinya

4. Pada kuadran IV ( W T Strategi ) Meminimumkan segala kelemahan untuk menghadapi setiap ancaman.

a. Diferensiasi untuk menghindari komoditas pasar yang serupa

b. Diversifikasi ke pangsa pasar baru

c. Investasi pada merek dan program loyalitas kepada pelanggan

d. Selalu berinovasi dan tetap mengupayakan desain-desain yang menarik

 Berdasarkan diagram bobot dan rating pada setiap unsur matrik SWOT sebagaiman di jabarkan diatas, bahwa posisi perusahaan saat ini berada pada kuadran II yaitu kuadran kombinasi dimana strategi umum yang dapat dilakuakan perusahaan adalah membuat keunggulan sebagai acuan untuk memfokuskan kegiatan dengan menghindari kelemahan.

Matrik samsung

 H. STRATEGI BISNIS UNIT

- Prioritas I

Menciptakan produk baru untuk pelanggan yang sama dimana produk baru  ditujukan  untuk segmen kalangan menengah

  •  Faktor penentu keberhasilan :
    Inovasi teknologi, produk yang berkualitas dan harga yang terjangkau
  • Aktivitas yang dilakukan :
    Meningkatkan teknologi OS , Pengadaan SDM yang berkompeten di bidangnya dan Penggunaan dana sesuai dengan alokasi yang sudah ditentukan

    1. Output      : Samsung Android seri Galaxy S4
    2. Outcome : Meningkatkan volume  penjualan pada market share
    3. Impact     : Citra perusahaan meningkat dan Sebagai pelopor digital pertama di dunia industri teknologi

 

- Prioritas II

Meningkatkan pangsa pasar yang ada untuk produk tertentu melalui  usaha pemasaran secara besar-besaran

  • Faktor penentu keberhasilan :
    SDM yang berkompeten di bidang pemasaran, memiliki strategi pemasaran dan tersedianya anggaran biaya
  • Aktivitas yang dilakukan :
    Merekrut SDM yang ahli di bidang pemasaran baik ekternal maupun internal minimal sarjana, Melakukan promosi/mengefektifkan iklan dan mengalokasikan dana sesuai kebutuhan

    1. Output      : Pangsa pasar pesaing menurun, menguasai pangsa pasar
    2. Outcome : Total penjualan industri dan profit perusahaan meningkat
    3. Impact     : Semakin meluasnya pangsa pasar

- Prioritas III

Menambah produk – produk baru yang saling berhubungan untuk pangsa pasar yang sama

  • Faktor penentu keberhasilan :
    Inovasi teknologi, pengadaan SDM yang ahli dan harga yang kompetitif
  • Aktivitas yang dilakukan :
    Meningkatkan teknologi OS, merekrut 10 orang yang berkompeten di bidangnya minimal sarjana dan harga menyesuaikan kebutuhan masyarakat Asia

    1. Output      : tablet
    2. Outcome : Meningkatkan penjualan produk dan profit perusahaan
    3. Impact     : Citra perusahaan meningkat

-Prioritas IV

Menambah produk – produk baru yang saling tidak berhubungan untuk pangsa pasar yang berbeda

  • Faktor penentu keberhasilan :
    Inovasi produk, harga yang terjangaku dan kapasitas produk yang besar
  • Aktivitas yang dilakukan :
    Menggembangkan ide-ide baru, pemberian discount dan menambah kapasitas yang lebih besar dari produk yang sudah ada.

    1. Output      : Kulkas, Televisi, Ac
    2. Outcome : Meningkatkan penjualan produk dan profit perusahaan
    3. Impact     : Citra perusahaan meningkat

 

Porter’s Five Forces

Ancaman pendatang baru

Modal dan asset yang besar dibutuhkan jika ingin masuk ke industri mobile. Sulit untuk memulai di sebuah industri dimana telah ada perusahaan yang beroperasi dengan berbagai strategi biaya. Tetapi jika bisa menemukan alternative produk dan berinovasi mungkin saja bisa masuk dan bertahan di industri tersebut. Pendatang baru akan di hadapkan pada isu permanent di industri ini yakni berinvestasi pada R&D yang bisa menciptakan produk inovatif dan unik. Selain itu pendatang baru juga harus dengan cepat memperkuat brand name ketika mencapai economic of scale perusahaannya melalui proses supply chain , serta pengembangan jalur dan infrastruktur distribusi. Dari hal yang diuraikan di atas dapat dilihat bahwa kesempatan pendatang baru untuk masuk menjadi rendah.

Ancaman dari produk pengganti

Bagi Samsung, hampir semua handphone yang memiliki fungsi dan performansi hampir sama dengan Samsung dapat diperhitungkan sebagai produk substitutes dilihat dari OS yang digunakan. Ini termasuk device yang dijalankan oleh Android Operating system (OS) dan yang bukan di buat oleh Samsung (MotorolaDroid) ataupun perangkat lain dengan OS yang berbeda seperti iPhone atau Blackberry. Ancaman produk pengganti di dalam industri sendiri apabila di lihat dari perangkatnya tidaklah tinggi, walaupun banyak tablet yang beredar untuk menggantikan posisi smartphone tetapi keberadaan ponsel belum bergeser fungsi.

Daya Tawar dari supplier

Jika meninjau perusahaan Samsung ini, daya tawar supplier nya rendah karena Samsung adalah penghasil sebagian besar komponen / piranti untuk produk yang di jualnya. (http://www.samsung.com/us/news/newsPreviewRead.do?news_seq=20315)

Kekuatan Pembeli

Pembeli memiliki kekuatan yang besar untuk beralih ke satu produk karena mudahnya akses informasi pada era sekarang mengenai spesifikasi lengkap produk, tekhnologi serta harga yang sangat bersaing untuk barang elektronik.

Rival yang kompetitif

Banyak sekali pesaing yang bergelut di industri yang sama dengan perusahaan Samsung. Dengan kemajuan tekhnologi yang pesat akan menjadi susah bagi Samsung untuk meraup untung besar jika tidak selalu melakukan inovasi dan membuat gebrakan baru seperti apa yang telah mereka lakukan sebelumnya.

 

ANALISA PERSAINGAN SAMSUNG

smsg1

smsg2

Key_1

Komentar :

Komentar :

Dalam menyusun strategi disusun berdasarkan kondisi yang ada di dalam perusahaan tersebut. Dimana  perusahaan tersebut dalam situasi perubahan dan perkembangan yang sangat cepat dan pesat, seperti saat ini sehingga mustahil dilakukan estimasi yang tepat dan akurat. Resikonya agar strategi ini tetap relevan dengan perkembangan yang ada maka harus dilakukan evaluasi dan penyesuaian setiap perkembangan teknologi. Rencana strategis inilah yang akan menentukan apakah apa yang dicita-citakan SAMSUNG benar-benar terwujud sesuai dengan visi dan misi perusahaan tersebut. Oleh karena itu, SAMSUNG harus mampu bersaing dan mengerahkan semua potensi yang dimiliki perusahaan ini untuk menjalankan rencana strategi ini.

Analisis Strategi

Berdasarkan data dari hasil analisis SWOT maka penentuan kebijakan strategi SAMSUNG sesuai dengan kondisi yang ada di perusahaan tersebut, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Hasil dari Key Performance Indicator juga menunjukkan bahwa pencapaian masing-masing strategi u nit bisa menunjukkan hasil yang sangat baik.  Beriku ini analisa analisa dari masing-masin g strategi unit tersebut :

  • Untuk menciptakan produk baru untuk pelanggan yang sama dimana produk baru ditujukan untuk segmen kalangan menengah , SAMSUNG  melakukan inovasi teknologi guna mempercepat segala akses internet yang dibutuhkan pelanggan serta  kualitas dari produk itu sendiri tetap unggul sehingga pelangga meningkat  khususnya Asia
  • Dalam usaha meningkatkan pangsa pasar, SAMSUNG berambisi untuk menguasai pasar ponsel dunia. Berbagai macam bentuk strategi pemasaran pun dilakukan guna menarik konsumen. Dimana saat ini semakain gencar-gencarnya peminat android dengan OS yang semakin hari semakin canggih. Ini yang membuat SAMSUNG unggul sampai saat ini khususnya di pasar Asia
  • Selain produk yang sudah ada dan beredar di pasar ponsel, SAMSUNG tetap menambah produk-produk baru yang sejenis hanya melakukan inovasi produk dan teknologi OS yang digunakan. Sehingga tercipta produk berseri dengan harga yang kompetitif. Dimana setiap tahun permintaan akan kebutuhan gadget terus meningkat.
  • Agar SAMSUNG mampu bersaing dengan produk yang lain, SAMSUNG terus menggali ide-ide baru dengan menambah produk-produk baru yang tidak saling berhubungan dengan pangsa pasar yang berbeda, seperti alat-alat rumah tangga. Selain ponsel SAMSUNG juga memproduksi kulkas, kipas angin, TV,AC  dll. Dengan demikian SAMSUNG terus melakukan inovasi produk dan meningkatkan citra perusahaan.

 

arigatou4

Categories: Uncategorized | Leave a comment

TUGAS MANAJEMEN STRATEGI

Categories: TUGAS KULIAH, Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to Web Blog Mahasiswa Universitas Narotama Sites. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Comment